Para PKL yang menolak penggusuran lapak dagangan mereka di Stasiun Kranji, Kota Bekasi, Kamis (4/4).

Bekasi - Ratusan pedagang kaki lima (PKL) di Stasiun Kranji, Kota Bekasi, melakukan aksi unjuk rasa menolak penggusuran lapak dagangan mereka oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI), Kamis (4/4) siang. Alasan para PKL menolak penggusuran adalah karena keberadaan mereka sebagai pengontrak resmi yang membayar tiap tahun kepada PT KAI.

"Bangunan kios adalah milik pedagang yang dibangun sendiri, atau membeli kepada pengembang dengan seizin dan sepengetahuan PT KAI, sehingga kami merupakan mitra usaha PT KAI," papar Sekretaris Persatuan Pedagang Stasiun Kranji Bekasi (PPSKB), Johanes Hutasoit, kepada media ini.

Oleh karena itulah, kata Johanes, para pedagang menolak keras rencana penggusuran yang akan dilakukan hari ini. Menurutnya, para PKL yang sudah berdagang sejak 20 tahun lalu itu, selalu membayar uang sewa tempat kepada PT KAI yang kisarannya mencapai Rp1,6 juta hingga Rp3 juta per tahun. "Kami ini pedagang resmi yang membayar uang sewa tiap tahunnya," sambungnya.

Johanes menambahkan, mereka bahkan juga sudah membayar melalui transfer ke Bank BNI sejak dua tahun terakhir. "Setelah dua tahun belakangan, kami diminta mentransfer uang sewa ke bank, yang ditransfer ke nomor rekening milik PT KAI," imbuh Johanes.

Namun sejak 2013, para pedagang tidak lagi membayar uang sewa, dikarenakan sudah dikeluarkan surat peringatan ketiga yang mengatakan akan membongkar lapak pedagang pada Kamis (4/4) ini.

"PT KAI sudah mengeluarkan surat peringatan untuk melakukan penggusuran sejak 5 Januari 2013. Surat peringatan sudah tiga kali kami terima, dan eksekusi akan dilakukan hari ini," imbuh Johanes.

Sementara itu, pihak PT KAI justru mengatakan bahwa tidak ada penggusuran PKL di Stasiun Kranji. Kepala Humas PT KAI Daerah Operasi 1 Jakarta, Agus Sutijono, menegaskan bahwa pembongkaran yang telah berjalan di Stasiun Kranji merupakan inisiatif pemilik kios, dengan membongkar sendiri bangunan kiosnya karena masa sewanya telah berakhir. Bahkan sebagian besar pemilik kios sudah membuat pernyataan untuk membongkar sendiri bangunan kiosnya.

"Kami berterima kasih kepada para pemilik dan penyewa kios di Stasiun Kranji, untuk membongkar sendiri bangunan kiosnya. Sehingga barang dagangan tidak rusak dan material bekas kios bisa dimanfaatkan kembali," ujar Agus.

Saat ini, menurut Agus, pemilik dan penyewa kios sudah membongkar sebanyak 17 kios di halaman stasiun dan dua kios di peron. Rencananya, mereka akan terus membongkar sendiri kiosnya, terutama yang telah berakhir masa sewanya. Ditambahkan Agus, lahan Stasiun Kranji sendiri rencananya akan dijadikan perluasan area parkir, baik untuk kebutuhan penumpang di Stasiun Kranji serta menampung penumpang dari Stasiun Bekasi.

"Kami berharap masyarakat Bekasi yang tidak bisa menitipkan kendaraannya di Stasiun Bekasi, nantinya bisa beralih ke Stasiun Kranji. Sehingga masyarakat bisa tetap menggunakan kereta api untuk menuju ke pusat kota Jakarta," ujar Agus.

 

Suara Pembaruan

Penulis: MKL

Sumber:Suara Pembaruan