Dua warga melintas dekat danau Ria Rio, Pedongkelan, Jakarta Timur. Rumah-rumah warga yang telah digusur sebelumnya kini dibiarkan dan dipenuhi sampah, bahkan air danau itu tercemar dari limbah pabrik farmasi di dekatnya.

Jakarta - Normalisasi dan pembersihan Waduk Ria-Rio yang sempat dilakukan pada Maret hanya berlangsung selama sekitar satu bulan.

Sejak April lalu, tidak ada lagi kegiatan normalisasi di waduk yang terletak di kawasan Pedongkelan, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur itu.

"Ada dua ekskavator dan enam truk yang biasanya mengangkut enceng gondok dan dalemin waduk, tapi sekarang sudah tidak ada lagi," kata Aep (50) seorang warga RT 3/13, Kelurahan Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur yang rumahnya tepat berada di belakang waduk, Minggu (26/5).

Berdasar keterangan petugas, kata Aep, penghentian normalisasi waduk, lantaran pekerja dialihkan untuk mengerjakan normalisasi Waduk Pluit. Akibat terhentinya normalisasi dan pembersihan, kondisi waduk yang juga disebut Waduk Pendongkelan ini semakin memprihatinkan dan seperti tak terurus.

Di beberapa sudut waduk, ada tumpukan sampah bongkahan puing yang dibiarkan menumpuk. Sebagian besar waduk seluas sekitar dua hektare ini dipenuhi enceng gondok, dan terlihat mengalami pedangkalan.

Dikatakan, saat ini kedalaman waduk hanya sekitar satu atau dua meter saja. Padahal normalnya kedalaman waduk mencapai sekitar lima meter. Dikatakan Aep keberadaan Waduk Ria-Rio cukup penting. Waduk ini menampung air buangan dari saluran air warga Rawamangun, Pulomas dan Cipinang.

"Dari waduk air masuk ke Kali Sunter dan mengalir ke laut," katanya.

Banyaknya eceng gondok dan pendangkalan yang terjadi membuat waduk yang seharusnya merupakan daerah resapan air justru rentan menimbulkan banjir dan menggenangi pemukiman warga di Jalan Pulomas Utara, RT 3/13, Kelurahan Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur, seperti yang pernah terjadi pada awal Januari 2013 lalu. Saat itu, luapan air menggenangi pemukiman warga hingga setinggi sekitar 60 cm.

"Jadi warga di sini was-was tiap hujan besar. Takut air waduk meluap," kata Aep yang sudah tinggal di kawasan tersebut sejak tahun 1984.

Ia berharap pemerintah segera menormalisasi waduk agar tidak menjadi ancaman banjir bagi warga yang tinggal di pemukiman sekitar lokasi. Aep mengatakan warga RW 13, Kelurahan Kayu Putih menyetujui jika waduk dinormalisasi.

"Intinya kami warga RW 13, setuju kalau waduk dinormalisasi. Sebab kalau dibiarkan begini terus, maka air waduk akan jadi ancaman banjir warga," imbuhnya.

Rahmat, warga RW 15, Kelurahan Kayuputih, mengaku belum mengetahui rencana normalisasi itu.

Menurutnya, ada dua RT di RW 15, Kayu putih dengan 200 kepala keluarga yang akan terkena pembebasan lahan jika normalisasi dilakukan. Rahmat berharap sosialisasi normalisasi waduk segera dilakukan kepada warga.

Pasalnya, sejumlah warga yang pada Maret lalu menjadi korban kebakaran sudah mulai kembali membangun rumah-rumah mereka. "Kami menunggu pembicaraan itu dari pihak pemerintah," kata Rahmat.

Menanggapi normalisasi Waduk Ria-rio, Kepala Suku Dinas PU Tata Air Jakarta Timur, Suhartono, menjelaskan bahwa normalisasi Waduk Ria-Rio adalah kewenangan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) DKI Jakarta. Dikatakan, pihaknya akan mengkoordinasikan kembali dengan DPU mengenai kelanjutan normalisasi waduk.

"Sebelumnya kami sudah melaporkan kepada Dinas, karena ini memang kewenangan Dinas PU Jakarta. Tetapi kami akan coba koordinasikan agar warga tidak resah," kata Suhartono.

Suara Pembaruan

Penulis: F-5

Sumber:Suara Pembaruan