Dua WNA Iran menjalani pemeriksaan di Kantor Imigrasi Jaksel.

Jakarta - Imigrasi Jakarta Selatan (Jaksel) menangkap 74 warga negara asing (WNA), karena terbukti melanggar hukum keimigrasian, dalam kurun waktu empat bulan.

Dari 74 WNA tersebut, 70 orang di antaranya telah dideportasi dan empat orang lainnya masih dalam proses penyidikan.

"70 orang warga negara asing yang ditangkap telah kami kenakan tindakan hukum keimigrasian, karena terbukti melanggar hukum imigrasi. 70 orang itu telah dideportasi dan namanya masuk ke dalam daftar penangkapan," ujar Kepala Imigrasi Jakarta Selatan, Maryoto Sumardi, di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, Kamis (20/6).

Ia mengatakan, dari empat orang yang masih dalam proses penyidikan, tiga orang sudah ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Salemba, sementara satu orang berada di Rutan Imigrasi Jakarta Selatan.

"Tiga sudah ditahan, kita titipkan di Rutan Salemba. Ketiganya dalam proses penyidikan untuk dilakukan penuntutan. Sementara, satu orang berada di sini," ungkap Maryoto.

Ia menyampaikan, keempat warga negara asing yang masih dalam proses penyidikan itu, berinisial KO, AHH, MA, dan MM.

"KO adalah warga Sierra Leone, tertangkap tangan pada saat Operasi Walet, di (Apartemen) Kalibata City. Ia terbukti berada di Indonesia tanpa memiliki paspor dan visa. Orang ini masuk ke wilayah Indonesia melalui jalur tidak resmi," jelas Maryoto.

Selanjutnya, MA warga negara Nigeria. Ia juga terbukti datang ke Indonesia tanpa melalui tempat pemeriksaan Imigrasi dan masuk melalui jalur tidak resmi. Kemudian, kata Maryoto, AAH warga negara Irak. Berada di Indonesia dengan dokumen tak sah atau terbukti menggunakan visa dan izin tinggal palsu.

"Berikutnya, berinisial MM warga negara Sierra Leone. Ia memiliki kartu izin tinggal terbatas dan punya paspor. Namun, saat ditangkap dia tak bisa menunjukan domisili sesungguhnya. Artinya, domisili yang tertuang dalam dokumennya palsu. Ia juga mengaku sebagai direktur atau tenaga ahli. Setelah petugas melakukan pengembangan, ternyata perusahaannya tak ada alias fiktif," jelasnya.

Maryoto mengatakan, pihaknya saat ini tengah melakukan pemeriksaan intensif dan pengembangan terkait adanya kemungkinan suatu kelompok yang mengorganisir warga negara asing menuju Australia.

"Kami juga akan terus berupaya melakukan pengawasan dan penindakan melalui operasi maupun tindakan pemantauan," jelasnya.

Jumlah orang asing di Jakarta Selatan, ungkap Maryoto, mencapai 6700 sampai 7000 orang dari berbagai negara. Paling banyak adalah warga negara Korea, selanjutnya Asia, Timur Tengah, dan Afrika.

"Mereka datang dengan izin bekerja sebagai tenaga ahli, kunjungan singkat termasuk wisata. Namun tidak menutup kemungkinan dari sekian banyak orang asing itu ada sebagian yang melakukan kegiatan atau ingin berada di Indonesia dengan dokumen tidak sah," papar Maryoto.

Ihwal dari mana imigran gelap datang ke Indonesia, ia menyatakan, melalui jalur tidak resmi.

"Mereka jelas menggunakan jalur yang jauh dari deteksi petugas. Melalui Pantai Selatan, Jalur Sukabumi, Tasikmalaya Selatan, Pangandaran, dan biasanya mereka selalu ada yang mengatur baik orang Indonesia maupun asing," imbuhnya.

-

Penulis: Bayu Marhaenjati