Tanpa Sekolah Master, Siswa Miskin Depok akan Kembali ke Jalan

Tanpa Sekolah Master, Siswa Miskin Depok akan Kembali ke Jalan
Pendiri Sekolah Master, Nurrohim (paling kiri) bersama anggota Komnas HAM. ( Foto: Beritasatu.com / Gerald Radja Ludji )
Gerald Radja Ludji Rabu, 17 Juli 2013 | 20:22 WIB

Depok - Sekolah Masjid Terminal (Master). Sekolah gratis di Depok, Jawa Barat itu, didirikan oleh Nurrohim dan beberapa rekannya dari masyarakat maupun mahasiswa atas dasar keprihatinan terhadap pendidikan di Indonesia. Khususnya bagi masyarakat miskin Indonesia yang masih kesulitan mendapatkan pendidikan layak.

Di sekolah tersebut, anak-anak kalangan bawah mendapatkan pendidikan dengan baik. "Konsep sekolah ini berbeda dengan sekolah formal lain. Karena murid kami berasal dari jalanan, maka kami membuat agar sekolah ini menjadi tempat bernaung bagi mereka. Semacam rumah kedua," kata Nurrohim.

Dan, seiring berjalannya waktu, Sekolah Master terus mendapatkan perhatian dari masyarakat. Bahkan, sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta pun tertarik untuk menjalin kemitraan dengan Sekolah Master.

Hasilnya, pengembangan Sekolah Master pun terus terjadi. Dari "emperan", Sekolah Master kini memiliki luas lahan sekitar 6.000 meter persegi.

"Tanah ini kami dapatkan melalui wakaf, dari sumbangan berbagai pihak. Jadi bisa dibilang sekolah ini adalah milik semua orang yang peduli," kata Nurrohim.

Namun kini, kenikamatan belajar para murid Sekolah Master terancam buyar, lantaran adanya rencana alihfungsi lahan bangunan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Depok. Pemkot Depok mengklaim bahwa lahan seluas 2.000 meter adalah wakaf dari terminal Depok. Dan tahun ini hak guna wilayah tersebut telah habis. Sedianya, lahan di atas gedung TK Sekolah Master itu akan disulap menjadi kawasan terminal terpadu, yang akan mencakup apartemen dan pertokoan.

Menyikapi hal tersebut, Nurrohim pun menggemakan protes. Ia khawatir anak-anak didiknya kembali ke jalanan lantaran kehilangan pendidikan layak.

"Saya senang jika ada investor yang datang untuk membangun kota ini, karena hal itu juga akan memberikan lapangan pekerjaan baru. Tapi, berat rasanya bagi kami bila lahan sekolah direlokasi. Apalagi kami sudah merencanakan pembangunan rumah singgah dan panti asuhan di sini," ujar Nurrohim.

"Sebagian orang yang tidak tahu masih menganggap sekolah ini cuma tempat para gelandangan. Padahal tidak hanya itu, kami memberi pendidikan di sini," ungkap Nurrohim.

"Dan dari hasil pendidikan di Sekolah Master, sejumlah siswa telah berhasil menempuh ilmu ke luar negeri," paparnya.

Karena itu, ia meminta Pemkot Depok untuk meninjau ulang kebijakannya tersebut. Agar siswa dari kalangan bawah yang kini bernaung di Sekolah Master tetap dapat mendapatkan pendidikan berkualitas.

CLOSE