Suasana kemacetan di pasar Tanah Abang, Jakarta.

Jakarta - Penertiban pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, menuai kritikan terutama dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Daerah Pemilihan (Dapil) DKI Jakarta.

Anggota DPD Dapil DKI Jakarta, Anwar Dani, menuduh penertiban dan penataan PKL di Pasar Tanah Abang hanya didasarkan alasan balas dendam. Alasan untuk menertibkan dan membersihkan kawasan Tanah Abang dari PKL, menurutnya bukan alasan yang utama. Menurutnya, itu karena pada saat Pemilihan Kepala Daerah 2012 lalu, perolehan suara pasangan Jokowi-Ahok (di sana) anjlok dibandingkan dengan rivalnya Foke-Nara.

Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), pun membantah keras pernyataan Dani Anwar itu. Tuduhan yang dilontarkan mantan anggota DPRD DKI tersebut disebutnya sangat mengada-ngada. Ditegaskan Ahok, penertiban PKL Tanah Abang merupakan langkah penegakan Peraturan Daerah (Perda) yang selama ini diabaikan oleh Pemprov DKI.

"Makanya, saya kira itu terlalu tidak beralasan. Buktinya, kita beresin (kawasan) Hayam Wuruk, Fatmawati, dan lain-lain. Satu pihak orang merasa kami menipu. Mereka memilih kami, tapi tetap kami melaksanakan peraturan," kata Ahok, di Balai Kota DKI, Jakarta, Rabu (21/8).

Menurut Ahok, warga yang memilih pasangan Jokowi-Ahok sebagai Gubernur dan Wagub DKI, tetap harus mendukung penegakan Perda. Warga yang tidak memilih pun harus mendukung keduanya untuk taat pada konstitusi, dan bukan kepada konstituen.

"Harusnya, kalau teori yang benar, ketika orang yang memilih kami melanggar peraturan, kami harusnya tidak melakukan penertiban dong. Tapi itu tidak mau kami lakukan, karena langkah kami ini membuat kami lebih taat pada konstitusi, bukan pada konstituen. Jadi, tuduhan seperti itu, saya kira nggak kena, gitu lho," ujarnya sambil tertawa.

Tetapi, menurut Ahok pula, tuduhan itu tetap dia terima, karena setiap orang mempunyai hak untuk menyatakan pemikiran atau pandangannya secara pribadi.

"Ya, itu haknya DPD. Mungkin saja, ya, saya nggak tahu secara psikologi. Musti tanya psikolog. Biasanya orang yang punya hati seperti itu, suka menuduh orang lain seperti itu, mungkin ya, artinya, kalau beliau yang jadi Gubernur, mungkin beliau lakukan seperti itu. (Dalam arti) Yang tidak memilihnya akan kena aksi balas dendamnya," tukasnya.

 

Penulis: Lenny Tristia Tambun