Sejumlah pekerja mengganti batu halaman Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah pada renovasi Kawasan Kota Tua, Jakarta, Kamis, (7/11). Pemerintah provinsi DKI Jakarta akan merevitalisasi kawasan Kota Kota Tua sebagai kawasan cagar budaya dan pariwisata yang memiliki nilai ekonomi, ditargetkan selesai bulan Maret 2014.

Jakarta - Untuk melakukan percepatan revitalisati kawasan Kota Tua, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI mendukung pembentukan PT Pembangunan Kota Tua Jakarta dan Kelompok Pelestarian Budaya Kota Tua Jakarta (Jakarta Endowment For Art and Heritage).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta Arie Budhiman mengatakan pembentukan Kelompok Pelestarian Budaya Kota Jakarta dilakukan secara kolektif oleh sektor privat, BUMN dan Pemprov DKI Jakarta. “Kelompok ini dibentuk untuk semua masyarakat Jakarta. Sebab Kawasan Kota Tua sementara ini masih menjadi idola dari aspek ekonomi, sosial dan budaya. Ini harus dikembangkan. Karena itu dibentuk kelompok ini dan suatu badan hukum untuk pembangunan Kota Tua,” kata Arie dalam acara Peluncuran Kelompok Pelestarian Budaya Kota Tua Jakarta di Menara Batavia, Jakarta Pusat, Selasa (12/11).

Arie menegaskan pembentukan badan hukum untuk melakukan revitalisasi Kota Tua yaitu PT Pembangunan Kota Tua Jakarta bukanlah merupakan badan usaha milik daerah (BUMD) maupun BUMN. Melainkan suatu badan hukum dalam bentuk perusahaan swasta yang merupakan kolaborasi dari sektor pribat, BUMN, Pemprov DKI dan stake holder serta kelompok masyarakat yang peduli pada Kota Tua.

“PT ini bukan BUMD ya, melainkan swasta. Jadi tidak di bawah koordinasi Pemprov DKI, melainkan berdiri sendiri sebagai sektor privat yang fokus mengerjakan revitalisasi Kota Tua,” ujarnya.

Presiden Direktur PT Jababeka Tbk yang menjabat sebagai Chairman Board of Trustee SD Darmono, menerangkan, sebelum pembentukan badan hukum pembangunan Kota Tua dan kelompok pelestarian budaya Kota Tua, dia sempat bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi).

“Saat itu, saya bilang pada Jokowi, ini saat yang tepat untuk membangun Kota Tua. Agar kawasan ini bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan menjadi pusat destinasi wisata di Indonesia. Karena pertama kali orang pergi ke sebuah negara, pasti akan ke ibu kota negara tersebut,” jelasnya.

Sayangnya, Kota Jakarta sebagai ibu kota negara masih kalah popular dibandingkan Bali bila dilihat dari sisi wisatanya. Namun, kalau dari sisi meeting, incentive, convention, exhibition (MICE), Kota jakarta paling lengkap.

“Tapi apa yang dilihat wisatawan? Ya pasti tempat-tempat wisata yang menarik. Kalau Kota Tua diperbaiki dengan baik, maka wisatawan bisa tinggal satu minggu di Jakarta,” tuturnya.

Menurutnya, bagi seorang gubernur Jakarta melakukan pembenahan Kota Tua cukup menyita waktu, padahal masih banyak permasalahan rakyat yang harus diselesaikan. Namun di sisi lain, prestasi seorang gubernur juga ditentukan bagaimana dia dapat melakukan pembenahan Kota Tua.

“Karena itu, daripada menyita waktu Jokowi dalam mengurusi Kota Tua, kami usulkan agar dibentuk konsorsium dalam bentuk badan hukum PT untuk menangani Kota Tua. Harus ada badan hukum yang dapat mewakili semua kepentingan. Dengan penjelasan ini dalam waktu singkat Jokowi memberikan surat untuk melakukan renovasi dan revitalisasi Kota Tua,” jelasnya.

Berdasarkan suratt No. 741/-1.853.15, dibentuklah dua entitas yang berfungsi untuk mengembangkan Kota Tua dengan membentuk PT Pembangunan Kota Tua Jakarta dan Kelompok Pelestarian Budaya Kota Tua Jakarta. Adapun program ini didukung oleh PT Jababeka Tbk, PT Agung Pdomoro Group, PT Ciputra Surya Tbk, PT Agung Sedayu Group, PT Intilan, Central Cipta Murdaya Group, PT Plaza Indonesia Realty Tbk dan Saratoga Capital.

Program ini juga didukung oleh PT Pos Indonesia sebagai corporate sponsor. Duduk sebagai Dewan Penasehat yang mewakili Pemprov DKI adalah Deputi Gubernur DKI bidang Pariwisata dan Kebudayaan Sylviana Murni, Kepala Disparbud DKI Arie Budiman dan Deputi Gubernur bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Sarwo Handayani.

Kepengurusan dalam kelompok dan PT tersebut adalah Chairman Board of Trustee SD Darmono (Jababeka), Chairman Board of Advisor Goenawan Mohamad, Anggota Board of Advisor bidang Hubungan Kelembahaan Sofyan Djalil (Mantan Menteri BUMN), anggota Board of Advisor bidang Seni Rupa dan Museum Oei Hong Djien, anggota board of Advisor bidang Arsitektur dan Heritage Han Awal, CEO Board of Executive LinChe Wei dan Vice CEO Board of Executive Teten Masduki.

Penulis: Lenny Tristia Tambun