Kapolda Metro Tegaskan Larangan Takbiran Keliling

Sejumlah warga melakukan pawai malam takbiran diatas bus umum, yang melintas dikawasan Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu (7/8). SP/Joanito De Saojoao (Suara Pembaruan)

Oleh: Bayu Marhaenjati / JAS | Minggu, 27 Juli 2014 | 21:28 WIB

Jakarta - Polda Metro Jaya, kembali mengimbau agar masyarakat tidak melakukan takbiran keliling, khususnya menggunakan kendaraan bak terbuka, truk, atau bus, karena membahayakan keselamatan orang lain maupun diri sendiri. Selain itu, berpotensi menimbulkan kericuhan massa atau tawuran.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Dwi Priyatno, mengatakan pengamanan Lebaran merupakan bagian dari Operasi Ketupat Jaya 2014.

"Jadi kami mengamankan kegiatan takbiran, masjid dan sholat Ied di beberapa wilayah, termasuk di masjid Istiqlal," ujar Dwi, saat acara buka puasa bersama jajaran Polda Metro Jaya, di Mapolda Metro Jaya, Minggu (27/7).

Dikatakan Dwi, pihaknya sudah menempatkan semua anggota berkaitan dengan tugas masing-masing. Sebanyak 7.200 personel disiagakan untuk melakukan pengamanan.

"Pengamanan masjid, Salat Ied dan tentunya setelah itu juga objek wisata seperti TMII, Ancol serta Ragunan. Ini tercatat cukup banyak pengunjungnya sehingga kita tempatkan penjagaan maupun patroli termasuk tertutup untuk mengatasi gangguan Kamtibmas seperti copet dan kemacetan lalu lintas," ungkapnya.

Ia menegaskan, takbiran keliling dilarang. Karena, bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

"Takbiran keliling dilarang. Sampai saat ini tidak ada pemberitahuan atau izin kepada Direktorat Intel Polda Metro Jaya, sehingga saya melarang adanya takbiran keliling. Kalau toh ada terjadi, barangkali yang belum tahu, kita imbau untuk segera kembali ke tempat semula, sehingga tidak meneruskan perjalanan. Kalau orang berkumpul, takbir di Monas tak masalah. Yang penting jangan sampai mereka ketemu, kemudian ya bisa berkelahi atau tawuran. Ini sangat tidak diharapkan," tegasnya.

Menyoal adanya rencana warga Jakarta ingin melakukan pawai obor, Dwi berharap, hal itu juga tidak dilaksanakan.

"Sebetulnya, kami tidak mengharapkan itu. Ini bagian yang perlu kita imbau juga tidak perlu dilaksanakan pawai obor. Karena, kita tahu obor itu kan api berbahaya juga, kita kawal mereka untuk mempercepat kegiatannya," katanya.

Selain tilang, bentuk tindakan tegas akan dilakukan jika ada aksi anarkis. Dwi menuturkan, unit-unit yg dibentuk, tidak hanya memiliki kemampuan lidik, sidik dan olah TKP, tapi juga mereka memiliki kemampuan menembak.

"Jadi tidak usah saya katakan tembak jitu. Prinsipnya mereka sudah tahu protapnya dilaksanakan termasuk Perkap Nomor 1 Tahun 2009, apabila ada anarkis atau menyerang petugas kita tindak tegas. Sifatnya melumpuhkan, bukan mematikan," tandasnya.


Sumber:
ARTIKEL TERKAIT