Sejarawan UI: Ruang Kreatif di Depok Mati

Situasi lalu lintas di Jl.Margonda Depok (Istimewa)

Oleh: / MUT | Jumat, 28 November 2014 | 11:15 WIB

Depok - Sejarawan Universitas Indonesia JJ Rizal menilai ruang kreatif di Kota Depok mati. Hal ini menyebabkan potensi-potensi kreatif pemuda di Depok tidak dapat berkembang maksimal.

Diungkap JJ Rizal, pemuda di Depok membutuhkan ruang untuk berkreasi dan berinovasi guna menyalurkan energi positif mereka dalam pengembangan kreativitas. Namun hal tersebut tak dapat dipenuhi oleh Pemkot Depok.

"Ini menyebabkan banyak pemuda Depok yang tak memiliki rasa sense of belonging kepada kota ini. Depok hanya menjadi tempat tidur dan tak ada ikatan," ujar JJ Rizal kepada SP dalam diskusi "Pembangunan Kota Depok ke Depan" di Kafe Apartemen Taman Melati di Jalan Margonda Raya, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (27/11) malam.

Berbeda dengan di Bandung, menurut Rizal, banyak ruang kreatif yang tersedia. Produk kuliner misalnya, hadir dengan beragam pilihan yang selalu menjadi primadona banyak orang.

"Depok bagaimana? Dodol Depok yang dulu kesohor saja sekarang sudah menghilang. Kalau di Bandung semua bisa tumbuh, eksis dan laris," kata Rizal.

Menurut JJ Rizal, saat ini, Depok makin tak nyaman dengan penataan kota yang semakin semrawut. Ini dibuktikan dengan macetnya jalanan pada akhir pekan, banjir dan genangan yang selalu melanda tiap hujan datang dan makin minimnya Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Lebih lanjut diungkap pria yang mendirikan Komunitas Bambu ini, Kota Depok juga tak memiliki identitas jati diri sebagai sebuah kota. Tidak seperti Yogyakarta yang lekat dengan sebutan kota pelajar, Depok gagal menyematkan gelar serupa.

Padahal, kata Rizal, ada Universitas Indonesia (UI) di kota ini. Menurut JJ Rizal, UI tidak pernah dilibatkan dalam pembangunan Depok.

"Padahal ada beragam cabang ilmu di UI yang bisa dieksplorasi untuk membangun Depok. Tapi selama ini ada miss antara Pemkot Depok dengan UI," ujar dia.

Lebih lanjut menurut Rizal, Depok harusnya bisa jadi Knowledge City. Namun saat ini, kata Rizal, Depok hanya menjadi kota semrawut.

"Depok ini sudah salah urus. Adanya UI tak dimanfaatkan dengan sebaik mungkin," ujar Rizal.

Sementara itu, Konsultan City Branding M. Rahmat Yananda menuturkan pentingnya sebuah kota memiliki branding yang dapat menjadi jati diri kota tersebut. "City branding harus kolaboratif. Branding sebuah kota harus melalui sebuah perencanaan yang matang," ujar Rahmat.

Menurut Rahmat, keadaan Depok saat ini identik dengan kemacetan dan Depok tak dapat melepaskan ketergantungannya dari Jakarta. Diungkap dia, alasan mengapa Jalan Margonda Raya selalu ramai dan padat adalah karena jalan tersebut menghubungkan Depok dengan Jakarta.

Senada dengan JJ Rizal, Rahmat menilai rancangan tata ruang kota harus memberi ruang untuk pengembangan kreativitas bagi orang-orang produktif di Depok untuk berkembang.

"Disinilah mengapa Depok belum dapat mem-branding dirinya. Siapa saya dan apa sebenarnya saya. Sulit mengidentifikasikan Depok dengan julukan sebagai kota tertentu," kata Rahmat.


Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT