Unjuk rasa menuntut pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Warga Depok Tolak Ormas Anti-Pancasila

Unjuk rasa menuntut pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). (Antara)

Jakarta - Masyarakat Pencinta NKRI Kota Depok mendesak pemerintah dan Polri menindak secara tegas kepada pemecah belah bangsa Indonesia. Pihaknya menolak organisasi massa (ormas) yang antiPancasila, kebinekaan, UUD 1945 dan memecah belah masyarakat dengan berbagai isu.

"Pemerintah bersama Polri tidak boleh takut, apalagi kalah dengan kelompok-kelompok yang membawa ideologi, ajaran, dan doktrin yang bertujuan untuk menghancurkan bangsa ini," ujar Koordinator Aksi Damai Anak Bangsa Berdoa Bagi NKRI, Stenli Dien, Jumat (19/5).

Stenli mengatakan kelompok ini dari waktu ke waktu kian berani tampil dan menggunakan ruang publik untuk menunjukkan identitas dan menyebarkan ideologi mereka. Pemerintah harus tegas, independen dan berani pasang badan untuk menghalau kekuatan-kekuatan tersebut yang telah mulai masuk ke berbagai lapisan masyarakat.

Pihaknya meminta kepada para penegak hukum benar-benar menjaga independensi dan tidak terpengaruh dengan berbagai tekanan dalam memberikan rasa keadilan kepada masyarakat. Keadilan bukan buah tekanan apalagi pesanan tetapi merupakan hak bagi semua warga negara. Para penegak hukum seperti polisi, hakim dan jaksa harus benar-benar berdiri di atas semua agama, suku, dan golongan.

Menurutnya, penegak hukum yang tidak tahan tekanan hanya akan melahirkan ketidakadilan dan ketidakadilan akan melahirkan penderitaan bagi masyarakat dan tidak stabilnya kehidupan berbangsa dan bernegara.

Diakui aksi itu unjukrasa itu digelar untuk meningkatkan jiwa nasionalisme. Mengingat, akhir-akhir ini kehidupan berbangsa sedang terkoyak dengan munculnya isu-isu radikalisme, sektarianisme dan kepentingan politik jangka pendek.

"Masyarakat yang masih belajar hidup berdemokrasi dengan mudah digiring masuk dalam sekat-sekat agama, etnis, dan aliran politik yang berbeda-beda. Relasi sosial terpecah, kebersamaan sebagai sesama warga bangsa renggang, gelombang demonstrasi dan gejolak sosial datang silih berganti," ujar Stenli.

Belakangan, energi bangsa ini terkuras habis untuk menyatukan dan menguatkan semangat keindonesiaan yang dari hari ke hari kian pudar. Berbagai kekawatiran akan masa depan Pancasila, kebinekaan dan NKRI kian membesar dan kegelisahan massal terasa di seantero negeri ini.

Stenli pun mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk melihat sejarah dan belajar hidup berbangsa dengan para pendiri bangsa ini. Bangsa Indonesia diperjuangkan dan didirikan oleh tetesan darah dan pengorbanan jiwa para pahlawan dari berbagai agama, suku dan bahasa.

"Mereka menanggalkan berbagai perbedaan, apalagi egoisme kelompok demi membela dan merebut Bumi Pertiwi dari tangan para penjajah. Mereka tetap hidup sesuai dengan agama, suku dan bahasanya tetapi mereka juga menghargai dan menghormati agama, suku dan bahasa lain yang ada di luar mereka," tutup dia.



Suara Pembaruan

Hotman Siregar/FMB

Suara Pembaruan