Ini Harapan Warga yang Masih Bertahan di Kolong Tol Kalijodo

Sejumlah warga kolong tol Kalijodo yang masih bertahan memindahkan barang-barang perabotan di Jalan Kepanduan I, Kelurahan Pejagalan, Jakarta Utara pada Rabu 14 Juni 2017. (SP/Carlos Roy Fajarta Barus)

Oleh: Carlos Roy Fajarta / WBP | Rabu, 14 Juni 2017 | 13:43 WIB

Jakarta- Penertiban sebanyak 80 bangunan liar yang ditempati 150 Kepala Keluarga (KK) di kolong tol Kalijodo, Jalan Kepanduan I, Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara pada Rabu (14/6) siang nyaris rampung. Hampir seluruh bangunan yang terbuat dari triplek, dan dinding hebel itu sudah rata dengan tanah. Selain alat berat excavator, penertiban juga dibantu tenaga anggota Satpol PP Pemprov DKI Jakarta.

Sejumlah warga yang masih bertahan sudah memindahkan barang-barangnya di bahu jalan inspeksi, tepat di seberang Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo. Mereka menunggu anggota keluarga atau didata Dinas Sosial DKI Jakarta.

Berdasarkan pantauan di lapangan, penertiban berlangsung aman dan kondusif dengan melibatkan 1.600 personel gabungan Polres, Pemkot, dan Kodim Kota Jakarta Utara, dibantu bawah kendali operasi (BKO) Polda Metro Jaya, serta satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait Pemprov DKI Jakarta.

Selama proses penertiban, polisi dan TNI menjaga dan mengamankan di setiap titik, sedangkan Satpol PP dan Dinas Kebersihan dibantu alat berat membersihkan puing-puing bangunan liar yang tersisa.

Berikut ini harapan dari sejumlah warga yang masih bertahan di kolong tol Kalijodo hingga detik-detik bangunan mereka dibongkar.

Rastipan (70) warga Indramayu yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung barang bekas dan besi tua di Penjaringan mengaku hanya bisa pasrah melihat gubuk berukuran 2x2 meter di antara kafe dan bar remang-remang ikut ditertibkan. "Mau pulang kampung saja pak saya, rencananya datang ke Jakarta mau cari rejeki dengan memulung, kalau dipindahkan ke rusun saya gak mampu bayar uang sewanya," ujar Rastipan, Rabu (14/6) kepada Suara Pembaruan.

Turyati (53) warga Purbalingga yang membuka dagangan kopi di kolong tol Kalijodo mengaku tinggal di lokasi tersebut sejak akhir 2016 lalu. "Kalau disiapin rusun ya maunya yang dekat-dekat sini saja, kalau kejauhan saya bingung nanti harus kerja apa di sana," kata Turyati.

Sementara Syarifuddin (65) salah satu warga sangat bersyukur apabila Pemprov mau menyediakan rumah susun. "Kontrakan di Jakarta Utara paling murah Rp 400.000-Rp 700.000. Itu juga sangat sederhana dan terbatas fasilitasnya. Jadi saya mau pindah ke rusun kalau difasilitasi pemda," kata dia.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT