Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel

Washington – Amerika Serikat menyatakan akan mempertimbangkan kembali desakan untuk mempersenjatai para pemberontak Suriah setelah rejim Damaskus meningkatkan serangan pada kubu opsisi di kota Homs.

Setelah sebelumnya menolak ide tersebut, pada deputi Presiden Barack Obama mulai memikirkan opsi memasok senjata ke oposisi Suriah yang lebih lemah, kata Menteri Pertahanan Chuck Hagel di Washington Kamis (2/5) siang waktu setempat (Jumat dini hari WIB).

Ketika ditanya apakah pemerintah Amerika akan meninjau kembali sikap menentang pasokan senjata ke pemberontak itu, Hagel menjawab: "Ya."

Namun pimpinan Pentagon itu menambahkan keputusan belum dibuat dan menolak memberi pendapatnya sendiri.

“Saya lebih suka mempelajari opsi yang ada dan melihat yang terbaik berkoordinasi dengan sekutu internasional kami," kata dia.

Menteri terdahulu, Leon Panetta, yang mundur bulan Februari, sebelumnya bicara ke anggota parlemen bahwa dia dan pimpinan militer Amerika, Jenderal Martin Dempsey, telah merekomendasikan untuk mempersenjatai pemberontak namun hal itu ditolak.

Belakangan ini merebak spekulasi bahwa Washington akan berubah sikap setelah agen-agen rahasia Amerika mendapat keyakinan rejim Suriah kemungkinan telah menggunakan senjata kimia dalam skala kecil.

Pernyataan Hagel disampaikan dalam jumpa pers bersama dengan Menteri Pertahanan Inggris Philip Hammond, yang mengatakan negaranya tidak mengesampingkan opsi mempersenjatai pemberontak atau pun opsi militer lainnya.

Namun Hammond menambahkan pemerintahnya sekarang harus patuh pada larangan yang diterapkan Uni Eropa dalam memasok senjata ke oposisi Suriah.

"Kami akan melihat situasinya ketika larangan itu berakhir beberapa pekan lagi. Kami akan terus memantau situasi itu," kata Hammond.

Dua pejabat tersebut menegaskan pemerintah masing-masing menginginkan solusi politik dalam konflik yang sudah berlangsung selama dua tahun, namun upaya diplomatik tampaknya buntu ditandai dengan akan mundurnya duta perdamaian Lakhdar Brahimi.

Para anggota permanen Dewan Keamanan PBB -- Amerika Serikat, Rusia, China, Inggirs dan Prancis -- telah mendesak Brahimi untuk bertahan di posisi yang ditempatinya sejak Agustus tahun lalu setelah mantan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan melepas jabatan itu.

PBB memperkirakan lebih dari 70.000 orang telah tewas dalam perang saudara di Suriah.

Penulis: Heru Andriyanto/HA

Sumber:AFP