Donald Trump (kiri) dan Vladimir Putin.

Intelijen AS : Rusia Bantu Kemenangan Trump

Donald Trump (kiri) dan Vladimir Putin. (Istimewa)

Washington - Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan serangan peretas untuk membantu Donald Trump memenangi pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) 2016. Hal itu terungkap dalam laporan intelijen yang dirilis Jumat (6/1).
Moskwa tidak segera menanggapi bunyi laporan tersebut, namun sebelumnya Rusia telah membantahnya.

Laporan intelijen setebal 25 halaman versi publik itu menyebut Rusia lebih cenderung lebih berpihak pada Trump. Tujuan Rusia adalah merusak keyakinan publik pada proses demokrasi AS. Rusia juga bertendensi untuk menutup peluang Hillary Clinton, merusak elektabilitas dan potensinya dalam meraih kursi presiden AS.

“Kami menilai Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan serangan yang memengaruhi pemilihan presiden AS 2016,” bunyi laporan.

Sebelumnya, para pejabat AS mengatakan Kremlin berada di belakang peretasan email Partai Demokrat. Namun Rusia menyangkal tuduhan, dan pendiri WikiLeaks Julian Assange mengatakan Moskwa bukanlah sumber informasi situs tersebut atas kebocoran massal dari email dari Partai Demokrat.

Tidak lama sebelum briefing dengan para pejabat badan intelijen, Trump menolak tuduhan bahwa Rusia telah meretas musuh-musuhnya. Dia memberitahu New York Times bahwa institusi AS telah menjadi sasaran serangan peretasan sebelumnya, tetapi kasus itu tidak mendapat perhatian media.

Pada Jumat (6/1), Donald Trump bertemu dengan para pejabat tinggi Direktorat Intelijen Nasional, Badan Intelijen Pusat, Biro Penyelidik Federal dan Badan Keamanan Nasional di New York, setelah merampungkan laporan.

“Sama sekali tidak ada pengaruh pada hasil pemilu termasuk fakta bahwa tidak ada rekayasa apa pun dengan mesin suara,” kata Trump.



Suara Pembaruan

Unggul Wirawan/WIR

Suara Pembaruan