Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pidato dalam Sidang ke-67 Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, Selasa (25/9).
SBY menoleh ke arah Sirleaf dan Cameron, tetapi keduanya tidak berusaha membantu sang presiden

Lawatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke New York, Amerika Serikat, pekan ini tampak berjalan mulus, meski resolusi antipenodaan agama yang diusulkannya tidak begitu mendapat sambutan meriah di panggung internasional.

Tetapi semua itu buyar ketika terjadi insiden memalukan yang terjadi dalam konfrensi pers, Rabu (26/9) silam.

Seperti yang dilaporkan The Jakarta Post, insiden dimulai ketika digelar konfrensi pers untuk membahas Panel Tingkat Tinggi Setjen PBB tentang Agenda Pembangunan Pasca-2015. Dalam konfrensi pers itu hadir SBY, Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf, dan Perdana Menteri Inggris David Cameron, ketiganya adalah pimpinan panel tersebut.

Perhatian mulai tertuju ke SBY ketika seorang wartawan radio Eropa bertanya ke pada SBY, dalam bahasa Inggris, tentang usulan resolusi antipenodaan agama. Alih-alih menjawab, SBY yang dalam pertemuan resmi di Tanah Air pun gemar menggunakan istilah berbahasa Inggris, justru terdiam.

SBY terdiam cukup lama. Seperti yang digambarkan The Jakarta Post, ia sempat menaikan alis matanya, menoleh seperti sedang mencari penerjemah.

Ketika reporter itu kembali mengulang pertanyaannya, setelah sekian lama hening, SBY menoleh ke arah Sirleaf dan Cameron, tetapi keduanya tidak berusaha membantu sang presiden.

SBY akhirnya diselamatkan oleh penerjemahnya menerobos keramaian wartawan dan petugas keamanan untuk membantu sang Presiden.

Sebenarnya banyak pejabat Indonesia yang hadir dalam konfrensi pers itu. Salah satunya adalah Hasan Kleib, Direktur Jenderal Multilateral, Kementerian Luar Negeri, yang berada paling dekat dengan podium, tetapi bukan dia yang membantu SBY malah sang penerjemah yang akhirnya berani naik ke panggung.

Setelah dibantu, SBY baru bisa menjawab pertanyaan itu, meski dia menolak membahas pertanyaan karena menurutnya tidak sesuai dengan topik diskusi itu.

Setelah perisitiwa itu sejumlah jurnalis asing membuat lelucon. Seorang reporter mengatakan "Orang Indonesia memang membingungkan," yang disambut oleh tawa oleh rekan-rekannya yang lain.

Penulis: