Ilustrasi anak nonton sebuah tayangan di televisi

Tayangan TV saat ini didominasi adegan kekerasan yang ditiru oleh anak.

Stres berat yang dialami anak-anak akibat berbagai masalah yang dihadapinya, baik masalah keluarga, pendidikan maupun lingkungan membuat  mereka terpicu untuk melakukan percobaan bunuh diri.

Anak-anak melakukan tindakan nekat ini, kata Arist Merdeka Sirait, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), kebanyakan "terilhami" dari tayangan televisi yang banyak mempertontonkan adegan kekerasan.

Adegan yang tak pantas dilihat anak-anak itu, sangat banyak ditemui di berbagai sinetron, berita atau tayangan rekonstruksi (reka ulang) sebuah kasus pembunuhan.

“Banyak orangtua yang datang ke Komnas PA dengan kasus anaknya berupaya bunuh diri mengatakan, anak-anaknya sering nonton berbagai tayangan kekerasan di TV tanpa pengawasan atau bimbingan orangtua. Inilah yang membuat mereka meniru adegan tersebut saat menghadapi masalah,” jelasnya kepada Beritasatu.com.

Arist mencontohkan, ada balita yang meninggal di kamar ibunya setelah menyayat pergelangan tangannya dengan benda tajam. Itu dilakukan karena keinginannya tak dipenuhi oleh orangtuanya. “Kami kaget sekali, kok anak sekecil itu sudah punya pikiran sejauh itu,” ungkapnya.

Namun setelah menanyakan kepada para orangtua korban yang menjalani konseling di Komnas PA tentang kebiasaan hidup anaknya sehari-hari, ternyata sebagian besar dari mereka sering menonton tayangan kekerasan di televisi lewat sinetron, berita atau rekonstruksi (reka ulang) kasus pembunuhan.

“Banyak sinetron yang memuat adegan bunuh diri saat menghadapi sebuah masalah atau sekadar mengancam orang di sekitarnya. Nah, adegan inilah yang ditiru oleh anak-anak, termasuk balita,” jelas Arist.

Tayangan Kekerasan Harus Dihentikan
Adegan tak mendidik ini memberikan contoh kepada anak, bahwa cara tersebut bisa digunakan untuk mengatasi masalah.

“Sementara anak-anak kan belum bisa menilai mana yang baik dan buruk. Ibaratnya mereka itu seperti kertas putih yang bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai faktor keluarga dan lingkungan,” imbuhnya.

Apapun yang dilihatnya, lanjut Arist, akan direkam kuat dalam memorinya untuk kemudian ditirunya.

Jadi, menurut pengamatan Komnas PA, baik anak maupun balita yang berinisiasi melakukan  tindakan itu, sebenarnya tidak mengetahui atau tidak mengerti, bahwa apa yang dilakukannya itu merupakan upaya bunuh diri yang membahayakan nyawanya.

“Ini kami ketahui setelah menanyakan langsung kepada mereka yang berupaya melakukan tindakan nekat itu. Saat kami bertanya kepada mereka bunuh diri itu apa? Mereka tidak tahu,” jelasnya merinci.

Beranjak dari kenyataan itu, Arist meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk menghentikan semua tayangan yang mempertontonkan adegan kekerasan.

“Anak akan meniru dan merasakan apa yang ia lihat dalam tayangan televisi.  Mereka berpikir seolah-olah adegan itu patut dilakukan. Kasus bunuh diri juga meniru adegan di televisi,” jelasnya.

Komnas  PA juga menyebutkan, bahwa berdasarkan penelitian dari tahun 2006 hingga akhir 2009,  terungkap sebanyak 68 persen tayangan di 13 stasiun televisi mayoritas mengandung kekerasan.

“Tidak ada pilihan (tayangan) buat anak.  KPI lemah karena mandatnya lemah. Dia hanya beri sanksi administrasi,” tegas Arist.

Penulis: Ririn Indriani