Ilustrasi anak-anak sekolah dasar.

(BAGIAN 1)

“Hhh....” aku mendengus kecil. Perlahan kulangkahkan kakiku ke depan gerbang sekolah baruku, SD Cemerlang.

Aku anak baru di sekolah SD Cemerlang itu. Sebenarnya aku pindahan dari Jakarta ke Manado.

“Halo, Nak! Koe anak baru kan?” tanya Pak Satpam sekolah.

Olala ternyata Pak Satpam orang Jawa. Dalam bahasa Jawa, koe itu artinya kamu.

Aku mengangguk senang. “Iya,” jawabku

Saking senangnya aku menjadi ramah sekali. Sampai-sampai kakak kelas 6 menuduhku sok ramah. Oya, aku duduk di kelas 5.

“Cih, anak baru sudah belagu!” oloknya. Teman kakak kelas itu mengangguk sambil mencibir.

Aku sebenarnya tidak terlalu sakit hati atas ucapan kakak kelas itu. Aku melanjutkan jalan.

Nah! Aku sudah sampai di kelasku. Kelas 5 A. Kelas yang masih asing bagiku. Aku lalu sibuk mencari teman sebangkuku.

“Halo, namamu siapa?” tanyaku pada seorang anak perempuan yang manis. Ia duduk dengan tenang di bangkunya.

“Hei, nama aye Chindya,” jawabnya tersenyum.

Aye?” aku bingung.

Chindya sepertinya tau pikiranku.

Aye adalah sebutan ‘aku’ untuk di sekolah ini,” ucapnya.

“Oooh....” aku sedikit melongo.

“Boleh aku duduk di sini?” tanyaku.

Sure,” jawab Chindya.

Aku meletakkan tasku di sebelah bangku Chindya. Tas warna ungu gambar angsa, tas kesayanganku.

“Wah! Selain pintar bahasa gaul, kamu juga pintar bahasa Inggris juga, ya?” pujiku. Chindya terkikik geli.

Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang kekar dan gagah. Ia datang ke kelas 5 A. Wajahnya merengut kesal.

“Heh, kau!”

Ia marah padaku! Aku tersentak kaget. Ada apa, ya?

Segera aku membalikkan badan. Anak laki-laki itu melongo. Oh, mungkin bukan aku orang yang ia maksud.

“Heh, lihat Stella?” tanya anak laki-laki itu. Baik nadanya, tapi terburu-buru.

“Stella?” aku terhenti sejenak. “Bagaimana aku tahu? Aku saja murid baru,” lanjutku dengan sedikit kesal.

“Oh, maaf,” anak laki-laki itu menunduk, lalu menampakkan wajahnya. “Namaku Ray”

“Oh, iya. Namaku Nana”

Kami saling bersalaman. Tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Mana Chindya? Kutengok kanan dan kiri. Ia sudah hilang seperti debu yang diterpa angin.

“Memangnya Stella itu siapa?” tanyaku pada Ray. Muka Ray langsung memerah padam.

“Stella itu... Ugh! Dia itu sepupuku. Ia memaksa ayahnya untuk bersekolah disini. Ayahnya tidak mengizinkan. Tapi ia memaksa. Akhirnya ia mencuri baju seragam adikku,” jawab Ray merengut-rengut.

“Mau kau apakan Stella?” ucapku. Ya, ya, ya, aku memang banyak tanya.

“Menonjoknya, memukulnya, mengeluarkannya dari sekolah ini!” Wah, wah, wah, pertandingan sudah memanas Bung, batinku sambil terkikik geli.

Tanyaku lagi, “Apa ciri-ciri Stella?”

“Pastinyalah dia perempuan. Stella pintar berbahasa Inggris, sangat mengenal budaya sekolah ini, dan rambutnya hitam,” terang Ray panjang lebar.

Uh, tiba-tiba pikiranku menerawang tentang sosok lain.

Bersambung hari Selasa (14/5) minggu depan.

Penulis: Bunga Nurfitria/NAD

Sumber:Rumah Oren