Mainan anak
Mainan anak

Jakarta - Kementrian Perindustrian mengimbau para produsen mainan anak untuk segera mengurus sertifikasi SNI (Standar Nasional Indonesia) sebelum Mei 2014. Karena setelah 30 April 2014 diharapkan semua produk mainan sudah berlogo SNI. Bagi yang tidak tertera SNI, maka produk tersebut akan ditarik dari pasaran.

"Kita sudah mencanangkan SNI untuk produk mainan dari 2010. Namun, pada 2011 kita mengalami banyak pro dan kontra. Akhirnya hingga hari ini pelaksanaan SNI belum efektif," imbuh Tony Sinambela, Kepala Pustan Kementrian Perindustrian pada jumpa pers di Tangerang, Rabu (27/11).

Tony mengaku kontra datang dari berbagai sisi, terutama dari sisi produsen dan distributornya sendiri. Dia mengatakan bahwa beberapa produsen dan distributor merasa keberatan perihal penambahan aturan ini. Terutama importir yang merasa produknya sudah mendapat standar keamanan internasional, seperti dari Eropa dengan logo CE (European Commission).

Lalu, yang menjadi kontra juga karena CE memiliki daftar 18 bahan kimia yang dilarang untuk produk mainan anak. Ssedangkan Indonesia hanya memiliki 8.

"Kita hanya perlu memastikan saja. Setiap negara memiliki aturan masing-masing. Barang yang kita ekspor ke Eropa pun tetap harus mendapat sertifikasi CE, begitu juga sebaliknya," ungkap Tony.

Selain proses meyakinkan para importir yang cukup memakan waktu, kontra lain sendiri juga datang dari negara yang mengimpor produk mereka.

"Negara-negara di Eropa juga sempat menanyakan kenapa kita membuat standar keamanan. Sehingga, kita perlu mensosialisasikan SNI ini ke beberapa negara dan meyakinkan bahwa persaingan bisnis tetap akan sehat. Perilaku bisnis tersebutlah yang membuat kita lama untuk meluncurkan ketentuan SNI ini," terangnya.

Kemudian, Tony menambahkan, dari sisi teknis pun juga menghadapi kendala. Dimana untuk menguji semua mainan tentu akan memakan waktu dan biaya besar.

Pemerintah menganggap standar keamanan ini sangat mendesak, karena Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menemukan beberapa zat kimia dari hasil uji lab independen terhadap mainan yang beredar di pasar tradisional (non-retail modern).

Hasil uji coba tersebut menemukan kandungan logam yabg bervariasi dengan nilai tertinggi untuk logam plumbum, hidrargirum, cromium dan cadmium.

"Hal utama yang harus diperhatikan pemerintah adalah pengawasan ketat di lapangan dan edukasi masyarakat. Selain itu, ptunjuk teknis pada label mainan juga diharapkan berbahasa Indonesia semua. Karena saya masih banyak menemukan ptunjuk dengan bahasa Inggris dan bahkan Cina," kata Tulus Abadi, Ketua YLKI.

Mainan yang bisa diberi sertifikasi SNI harus yang tidak memiliki bagian-bagian yang tajam, lalu bagian-bagian yang kecil hingga mudah terlepas. Hal itu dikhawatirkan bisa melukai dan tertelan oleh anak.

Kemudia, mainan tersebut tidak boleh yang mudah terbakar dan mengandung unsur-unsur kimia tertentu, seperti mercury.

Penulis: Kharina Triananda/MUT