Siswa Taman Kanak-kanak (TK) tengah memanen  tanaman selada di Sekolah Bogor Raya (SBR), Kota Bogor, Minggu, 19 Maret 2017.

Siswa TK SBR Jadikan Limbah untuk Sarana Tanaman Produktif

Siswa Taman Kanak-kanak (TK) tengah memanen tanaman selada di Sekolah Bogor Raya (SBR), Kota Bogor, Minggu, 19 Maret 2017. (Suara Pembaruan/Ignatius Herjanjam )

Bogor - Julian, Janice, Bryant, Keanu, Kim dan puluhan siswa taman kanak-kanak (TK) tampak bergembira. Mereka tengah memanen tanaman selada di Sekolah Bogor Raya (SBR), Kota Bogor.

Hasil jerih payah mereka selama lebih dari satu bulan untuk menyemai biji, merawat dan memberi nutrisi, berbuah manis. Mereka didampingi sang guru, beramai-ramai memanen hasilnya dan mengonsumsinya bersama.

"Ini adalah kali kedua kami panen sayuran. Sebelumnya, kami telah panen kangkung," kata guru SBR, Lizbeth Tambayong, Minggu (19/3).

Kegiatan bercocok tanam ini, merupakan bagian dari upaya SBR untuk mengenalkan lingkungan hidup kepada siswa sejak dini. Masing-masing anak, kata Lizbeth, mendapat giliran tugas. Ada yang menyemai, memberi nutrisi hingga melihat perkembangan tanaman lalu menuliskanya dalam buku laporan.

"Mulai menyemai, memberi nutrisi hingga memanen mereka tuliskan dalam sebuah jurnal. Lama menyemai hingga panen, antara 37 hari hingga 47 hari," lanjut Lizbeth.

 Siswa Taman Kanak-kanak (TK) tengah memanen tanaman selada di Sekolah Bogor Raya (SBR), Kota Bogor, Minggu, 19 Maret 2017.

Usai panen selada, bocah-bocah polos itu seakan ingin mengulang kembali kisah sukses mereka. Julian dan teman-temannya, menggulung kain flanel sisa limbah, meletakkan biji-biji kangkung ke dalam air di sela-sela gulungan flanel itu lalu menutupnya dengan rapat.

"Jangan kena sinar dulu selama dua hari supaya bijinya pecah, lalu bisa tumbuh," kata Julian.

Selain kain flanel sisa limbah, tambah Lizbeth, mereka juga menggunakan botol air mineral atau stereofoam sebagai media tanaman. "Semua media yang kami gunakan merupakan limbah yang sudah tidak terpakai lagi," ujar Lizbeth.

Dari sini, katanya, anak-anak belajar untuk memanfaatkan limbah, memprosesnya menjadi produk yang bermanfaat. "Limbah-limbah ini kan tidak asing lagi bagi mereka. Ini bisa jadi pembelajaran, bagaimana mereka menjaga lingkungan," katanya.

Selain itu anak-anak juga belajar mencintai alam. "Tanaman selada, kangkung ini juga harus kita kenalkan pada mereka sejak dini. Mereka belajar tentang siklus hidup tanaman. Dari situ diharapkan kelak mereka bisa menghargai petani sayuran," kata guru SBR lainnya, Inggrid Fitria.

Inggrid menambahkan, tehnik yang digunakannya adalah dengan hidroponik. "Dengan tehnik ini anak-anak tidak perlu berkotor ria dengan tanah, tapi mereka tetap tahu bagaimana cara budidaya tanaman. Mereka antusias mengerjakannya sambil bertanya kalau ada yang tidak mereka mengerti," tukasnya.

Solusi Sempitnya Lahan

Memanfaatkan area sempit untuk tumbuh kembang tanaman saat ini terus digencarkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Itu karena lahan di Kota Bogor kian hari kian menyusut.

"Ruang terbuka hijau di Kota Bogor kurang dari 30 persen, ini karena banyaknya bangunan komersial seperti perumahan dan apartemen. Alhasil lahan sempit pada bangunan vertikal pun sebaiknya bisa ditanami,” kata Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman Kota Bogor, Firdaus, Minggu (19/3).

Firdaus mengatakan, anak-anak bisa menjadi contoh bagi orang dewasa untuk mau memanfaatkan limbah jadi sarana tanaman produktif sekaligus solusi untuk mengatasi sempitnya lahan.



Suara Pembaruan

Ignatius Herjanjam/FER

Suara Pembaruan