Boneka kelinci.

Sudah seminggu ini Dila melihatnya, boneka kelinci yang lucu dan berbulu lebat! Ia selalu menatap Dila dengan sepasang mata bulatnya setiap kali Dila lewat di depan toko mainan itu. Rasanya ia ingin masuk dan membawa boneka itu pulang ke rumah, hmm…, tidurnya pasti akan nyenyak dalam pelukan si kelinci itu.

"Ayo, Dila," ajak Mama suatu sore saat Dila lagi-lagi berhenti di depan toko itu.

"Sudah sore kita harus segera sampai di rumah, Oki menunggu susunya," ujar Mama lagi. Dila bergegas mengikuti mamanya, ia ingat tujuan mereka ke pasar adalah membeli susu untuk adiknya, Oki. Sampai di rumah, pikiran Dila selalu teringat pada boneka itu.

Kemarin, waktu main ke rumah Laura ia juga melihat ada boneka kelinci itu hanya saja beda warna, yang di toko itu warnanya lebih bagus, warna pink kesukaan Dila.

"Ma," panggil Dila saat sedang menonton acara televisi. "Mama lihat tidak di toko mainan tadi?"pancing Dila.

Mama tidak mengalihkan perhatiannya dari layar televisi.

"Dila, mama sedang pusing nih. Bulan ini papamu butuh banyak uang untuk membayar uang kuliahnya," ujar Mama pelan, aduh iya Dila lupa kalau sekarang memang papa kuliah lagi.

Dila terdiam, tidak mungkin rasanya minta Mama atau Papa untuk membelikan boneka itu. Bagaimana dengan Eyang Putri dan Eyang Kakung? Besok, hari Minggu mereka biasanya datang ke rumah.

"Eyang kenapa sih kalau ke rumah Dila bawa makanan terus,?" ujar Dila hari Minggu sore kepada Eyang Putri yang membawa sepinggan macaroni schottel kesukaan Dila saat berkunjung ke rumah orangtua Dila.

"Ada apa Dila? Kamu sudah tidak suka macaroni buatan Eyang? Eyang Putri mengerutkan kening dan menatap Dila dengan heran. Dila meringis, bukan itu yang ia maksud.

"Hm, kenapa? Maksud Dila kenapa tidak bawa boneka, misalnya. Dila kan suka juga sama boneka," ujar Dila berharap Eyang Putri menangkap apa yang diinginkan Dila.

"Kalau bawa boneka kan cuma Dila yang bisa menikmati, papa, mama dan adik Oki bagaimana? Mereka kan tidak suka boneka," Eyang Putri mengernyitkan kening.

Dila terdiam, aduh Eyang Putri kenapa sih jadi tidak nyambung begini?

Dila lagi-lagi menatap penuh minat pada boneka itu, si Lupe, boneka kelinci itu sudah ia beri nama sekarang. Lupe masih menatapnya, kapan ya Lupe bisa berkumpul bersama Bolo, boneka anjingnya, dan bermain bersama Ciko, Mumu, Bleki dan bonekanya yang lain? Kalau sedang bermain di halaman belakang pasti lebih ramai kalau Lupe juga hadir di sana.

"Dila, ayo sudah mau hujan," Papa menarik tangannya, lagi-lagi Dila terpaksa meninggalkan Lupe sendiri di toko itu.

***

Hari itu Dila diajak Mama lagi ke pasar, Dila diminta menunggu di mobil. Karena menunggu lama, Dila akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil, kebetulan tempat parkir mobil tidak jauh dari toko mainan itu. Dila mendekati etalase toko, ia merindukan mata hitam itu, Dila menatap tajam ke dalam etalase toko. Tapi. Hei, dia tidak menemukan pemilik mata hitam itu! Di mana Lupe? Dengan panik mata Dila mengedari etalase toko, tapi yang dijumpainya hanya mainan robot dan beberapa boneka Barbie, tapi tidak ada Lupe! Wah, wah kemana dia? Apa sudah ada yang membelinya? Ingatan itu membuat Dila bertambah panik.

Duh, siapa sih yang mengambil Lupe, atau lebih tepat membelinya? Laura? Atau salah satu temannya yang lain.

"Aduh, Dila di sini kamu rupanya," tiba-tiba Mama sudah berdiri di sebelahnya, wajah Mama terlihat lega melihatnya.

"Mama kan minta kamu tunggu di mobil, ayo kita pulang," ajak Mama sambil menggamit tangan Dila.

"Mama tunggu," Dila berkata panik.

"Ya ampun Dila, Mama harus buru-buru nih, ayo," Mama tidak mau tahu dan terus menarik tangan Dila, yang akhirnya mengikuti. Sebenarnya ia ingin menangis!

Dila termangu di dalam kamarnya. Mama masih sibuk dengan Oki adiknya, Papa sedang pergi kuliah, Mbok Imah sibuk di dapur. Hari itu setelah pulang dari kelompok bermainnya, Dila kembali sendiri di kamarnya. Di sudut kamar, Bolo, Ciko, Mumu dan Bleki terhampar di karpet. Mereka semua menatap Dila dengan pandangan bertanya, karena seharian itu Dila tidak menyentuh dan bermain bersama mereka, sekarang Dila terlihat murung.

Bosan di kamar, akhirnya Dila pergi keluar, suasana sepi, mungkin Mama sudah tidur seperti kebiasaannya kalau bersama Oki. Papa belum pulang, Mbok Imah mungkin sudah beristirahat juga. Dila terus melangkah menuju ruang keluarga, tiba-tiba....

"Selamat Ulang tahun Dila," suara Mama, Papa, Eyang Putri, Eyang Kakung, Mbok Imah dan Dila bengong menatap beberapa anak kecil sebayanya juga ada di sana. Hari ini ia ulang tahun?

Dila mengerjapkan mata, ia tidak sedang bermimpi! Di sana ada mereka, sementara di atas meja ada tumpeng dan makanan lainnya. Kenapa ia bisa lupa?

"Ini teman-teman dari kampung di belakang, mereka akan merayakan ulang tahun bersamamu," Mama memeluknya, begitu pula Papa.

"Tapi Dila tidak kenal mereka," bisik Dila bingung.

"Benar, tapi mereka selalu melihat kamu tiap kali kamu bermain bersama boneka-bonekamu di halaman belakang," ujar Papa.

"Mereka juga ingin punya boneka sepertimu," sambung Mama.

"Hmm, kenapa tidak minta Dila untuk membuka hadiahnya?" ujar Eyang sambil menyerahkan sebuah kotak berukuran besar.

"Boleh tapi dengan satu syarat," ujar Mama sambil menatap Dila.

Uh, hari ini dia kan yang ulang tahun? Kenapa harus ada syarat?

“Dila boleh memiliki benda dalam kotak ini tapi dia harus memberikan mainan yang lain untuk teman-teman barunya ini, karena kalau dia ingin memiliki semuanya, itu berarti Dila sudah berlaku tidak adil. Karena Dila pasti akan akan menelantarkan boneka-boneka lainnya," Mama berkata pasti.

"Bagaimana Dila?" desak Mama.

"Ayo biarkan Dila membuka kotaknya," Papa sudah tidak sabar.

Akhirnya Dila membuka kotak itu, dan....

"Lupe!" jerit Dila tidak menyembunyikan rasa gembiranya, boneka kelinci itu ia angkat dan peluk erat.

"Benar, kan? Kalau kamu sudah memiliki Lupe, pasti kamu lupa dengan Bolo, Ciko, Mumu dan yang lainnya," Papa mengerutkan keningnya. Dila ingat perjanjian yang dibuatnya, jadi maksud Mama....

"Bagaimana? Kamu mau kan membagi mainanmu yang lain dengan mereka?" tagih mama dalam suara lembut.

Dila menatap wajah-wajah teman barunya itu, mereka menatap Dila penuh harap.

"Baiklah Mam, nanti Dila pilihkan," ucap Dila akhirnya. Teman-teman baru Dila tampak senang sekali mendengarnya!

Penulis: