Joseph Dunford (tengah) komandan pasukan ISAF di Afghanistan

Kabul - Pakta pertahanan atlantik utara (NATO), Kamis (25/4) mengklaim sudah memenangkan perang melawan Taliban di Afhanistan, meski sejumlah organisasi mengatakan jumlah serangan dari para pejuang Taliban terus meningkat tahun ini.

Jenderal Joseph Dunford dari Amerika Serikat, kepala Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) yang dikomandoi oleh NATO, mengatakan bahwa terdapat kemajuan yang tidak bisa dibantah dalam membangun Afghanistan sebagai negara yang aman dan stabil.

Sementara sebuah studi dari lembaga swadaya masyarakat Afghanistan, Safety Office, menunjukkan bahwa pada periode Januari hingga Maret serangan Taliban dan kelompok pejuang lain naik 47 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Dalam laporan berbeda Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa pada kuartal pertama 2013, jumlah korban sipil di Afghanistan meningkat 30 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Tercatat 475 korban tewas dan 872 korban cedera.

Dunford, dalam pernyataanya memang tidak merinci jumlah serangan tetapi mengklaim bahwa 80 persen serangan para pejuang terjadi di tempat yang didiami oleh kurang dari 20 persen populasi.

Dia juga mengklaim bahwa survei menunjukkan warga Afghanistan akan "tidak lagi menerima kebijakan opresif dari Taliban."

Sebanyak 100.000 pasukan ISAF di Afghanistan akan mengakhiri misinya di negeri itu tahun depan dan digantikan oleh pasukan Afghanistan. Dunford mengatakan bahwa Taliban akan dihadapkan dengan kekuatan polisi dan tentara Afghanistan yang berjumlah lebih dari 350.000 personil.

"Selain jumlahnya, ada beberapa fakta mendasar yang menunjukkan meningkatnya keamanan di seluruh negeri ini," kata Dunford.

Ia mendukung klaimnya itu menunjukkan bahwa sudah hampir delapan juta anak-anak Afghanistan yang mengenyam bangku pendidikan, 40 persend dari mereka adalah anak perempuan. Pada masa rezim Taliban hanya satu juta anak yang mengecap pendidikan dan semuanya hanya lelaki.

Pada 2002 hanya sembilan persen warga Afghanistan yang bisa mengakses fasilitas kesehatan tetapi kini, klaim Dunford, 85 persen warga sudah bisa mengjangkau akses kesehatan hanya dalam satu jam.

"Di bawah Taliban, hanya ada 10.000 jaringan telepon rumah dan kini sudah 17 juta orang menggunakan telepon seluler," klaim Dunford lebih jauh.

Jumlah anggota parlemen perempuan lebih dari 25 persen dan perempuan juga ambil bagian dalam militer serta kepolisian, ujar Dunford.

Tetapi beberapa analis tidak sepercaya diri Dunford.

"ISAF tampaknya menggunakan strategi optimisme. Mereka mencoba menemukan angka-angka statistik untuk mendukung klaim bahwa mereka telah memenangkan perang ini," kata Kate Clark dari Afghan Analysts Network (AAN).

Misalnya tentang meningkatnya jumlah ponsel, jelas dia, bukan karena jatuhnya Taliban tetapi memang karena perkembangan teknologi di dunia.

Sementara analis militer, Gary Owen dalam sebuah blog yang diunggah di situs AAN mengatakan bahwa masalah paling serius yang dialami oleh angkatan bersenjata Afghanistan saat ini adalah atrisi, yakni tingginya jumlah prajurit yang melaridikan diri atau desersi, meninggal, atau cedera.

Menurut Owen, militer Afghanistan mengalami kekurangan 27 persen dari total pasukannya pada periode Oktober 2011 hingga September 2012 karena atrisi.

Penulis: Liberty Jemadu

Sumber:AFP