Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertemu Sekjen PBB Ban Ki-moon di New York untuk menyerahkan laporan 'A New Global Partnership' yang dirumuskan sebuah panel dari beberapa negara, 30 Mei 2013.

New York - Agenda pembangunan pasca Millennium Development Goals (MDGs) 2015 masih menempatkan upaya penurunan kemiskinan sebagai isu utama. Indonesia dalam 12,5 tahun pelasanaan MDGs sudah mencatat kemajuan berarti dan akan terus mencatat kemajuan pada masa akan datang.

"Ada tiga aspek utama pada pasca-MDGs 15 tahun setelah tahun 2015, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Indonesia sudah mencatat kemajuan dan akan lebih baik lagi pada 2,5 tahun akan datang dan 15 tahun pasca-MDGs," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada pers usai menyerahkan The Report of The UN High Level Panel of Eminent Persons on The Post-2015 Development Agenda, Kamis (30/5) waktu setempat atau Jumat dinihari WIB.

Sejak Kamis pagi, Presiden memimpin Panel Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mengenai Agenda Pembangunan Pasca 2015 (UN High-Level Panel of Eminent Persons on the Post-2015 Development Agenda) di Markas Besar PBB di New York. Dia menjelaskan, meski ada perbedaan, tim akhirnya menyetujui 12 butir agenda.

"Kami mengajukan 12 butir agenda. Jika dunia sungguh menjalankan agenda itu, bumi akan selamat dan generasi baru akan lebih sejahtera," ungkap SBY. Dikemukakan, Indonesia terus menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

"Jangan terus merasa rendah diri. Minder, pesimistis, seakan kita tak punya tititk terang. Kita harus yakin bahwa kita bisa," ujar Presiden.

Dengan masih tersia dua setengah tahun untuk menuntaskan MDGs, SBY menjelaskan, capaian RI jauh lebih baik dibanding banyak negara lain.

"Moga-moga pada 15 tahun berikut, Indonesia lebih baik lagi," paparnya.

Ke-12 butir agenda yang ditawarkan tiga pemimpin bersama panel tingkat tinggi untuk agenda pasca-MDGs adalah pertama, mengakhiri kemiskinan. Kedua, meningkatkan permberdayaan wanita dan mencapai kesetaraan gender.

Ketiga, menyediakan pendidikan berkualitas dan suasana belajar seumur hidup. Keempat, memastikan kesehatan yang layak. Kelima, ketahanan pangan dan tercukupinya nutrisi.

Keenam, mencapai akses air minum dan sanitasi. Ketujuh, menjaga keberlanjutan ketersediaan energi. Kedelapan, penciptaan lapangan kerja, mata pencaharian keberlanjutan, dan pertumbuhan ekonomi yang adil.

Kesembilan, pengelolaan aset sumber daya alam secara berkesinambungan. Kesepuluh, memastikan terciptanya tata kelola pemerintahan dan lembaga yang efektif.

Kesebelas, memastikan terciptanya kehidupan sosial yang stabil dan damai. Keduabelas, menciptakan lingkungan yang berdaya dengan pendanaan jangka panjang.

Dengan 12 tujuan universal ini, kata SBY, laporan yang diberi tema, “A New Global Partnership: Eradicate Poverty and Transform Economies through Sustainable Development”, mereka yakin, dunia akan lebih baik.

SBY mengatakan, pihaknya tidak mendikte semua negara untuk mewujudkan tujuan butir-butir yang sudah disepakati tim. Semuanya diserahkan kepada masing-masing negara.

Presiden menjelaskan, dirnya sebagai wakil tiga co-chair atau ketua bersama telah memberikan hasil akhir kepada Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dan memberilan briefing kepada wakil anggota PBB. Panel sudah bekerja keras selama 10 bulan, menghimpun pandangan dari berbagai pihak, jelasnya.

Hasil tim ini akan didiskusikan lagi antarnegara anggota PBB. "Tapi, laporan panel akan menjadi rujukan. Karena 12 butir agenda dihimpun dari berbagai pihak. Profesional, pengusaha, pemerintah, akademisi, dan NGO," kata SBY.

Panel, kata SBY, mendapat masukan dari lebih dari 5.000 organisasi dari 120 negara. Selain itu, panel juga mendapat masukan tertulis dari 850 pihak.

"Dengan demikian, 12 butir agenda ini bukan hanya hasil pemikiran 27 anggota panel, melainkan masukan dari berbagai pihak," pungkasnya.

Penulis: P-12/FMB