Aksi protes di Turki.

Istanbul - Perdana Menteri Turki, Recep Tayipp Erdogan, menghadapi tekanan mendalam, setelah gelombang protes nasional digelar dalam tiga hari berturut-turut.

Polisi telah menangkap lebih dari 1.700 orang secara nasional, meski sebagian besar telah dibebaskan, Minggu (2/6).

Erdogan tengah menghadapi unjuk rasa terbesar sejak berkuasa pada 2003. Ribuan orang melakukan unjuk rasa di kantor perdana menteri di Istanbul dan ibukota Ankara.

Polisi menembakkan gas air mata dan meriam air ke arah pengunjuk rasa yang berbaris di kantor perdana menteri di Istanbul dan Ankara.

“Diktator, turun!… Kami akan melawan hingga kami menang,” teriak para demonstran.

Menteri Dalam Negeri Turki, Muammer Guler, mengatakan 58 warga sipil dan 115 petugas keamanan terluka selama tiga hari protes di seluruh negeri. Sementara Serikat Doktor Ankara mengatakan lebih dari 400 warga sipil terluka.

Masjid-masjid, toko-toko dan sebuah universitas telah diubah menjadi rumah sakit untuk merawat korban luka. Guler memperkirakan kerusakan akibat kerusuhan yang terjadi mencapai 20 juta lira atau sekitar Rp 100 juta.

Unjuk rasa Turki dimulai Jumat (31/5) oleh aksi protes warga Istanbul menolak keputusan pemerintah untuk mengubah Taman Taksim menjadi pusat perbelanjaan.

Unjuk rasa yang diselenggarakan oleh aktivis lingkungan itu kemudian berubah menjadi bentrokan setelah polisi huru-hara menyemprotkan gas air mata.

Bentrokan di Taman Taksim memicu aksi protes solidaritas menentang pemerintah Erdogan di seluruh Turki. Puluhan ribu orang melakukan unjuk rasa di sejumlah kota di Turki, termasuk ibukota Ankara, Bodrum, Konya, dan Izmir.

Menghasut

Erdogan menuduh partai oposisi menghasut orang-orang menentang pemerintah. Dia menyebut aksi protes ditujukan untuk mendapatkan suara rakyat dalam pemilu tahun depan.

“Ini sepenuhnya ideologi. Partai utama oposisi yang membuat seruan perlawanan di jalan-jalan memprovokasi protes. Ini adalah tentang partai saya, diri saya, dan pemilihan kota di Istanbul dan upaya untuk membuat partai saya kehilangan suara di sini,” katanya.

Turki akan menggelar pemilu presiden dan daerah pada 2014, serta pemilu parlemen pada 2015. Erdogan diperkirakan akan mencalonkan diri sebagai presiden Turki.

Sementara itu, partai utama oposisi Partai Rakyat Republik (CHP) membantah tuduhan mendalangi kerusuhan. Oposisi menyalahkan kebijakan Erdogan.

“Hari ini orang-orang di jalanan di seluruh Turki tidak eksklusif dari CHP, tapi dari semua ideologi, dan semua partai. Apa yang Erdogan dapat lakukan adalah bukan menyalahkan CHP, tapi menarik pelajaran dari apa yang terjadi,” kata Mehmet Akif Hamzacebi, seorang anggota partai CHP.

Penulis: D-11/FEB

Sumber:AFP