Malaysia Tahan 3 Tersangka Terkait Pembunuhan Kim Jong-nam

Warga menyaksikan televisi yang menyiarkan berita pembunuhan Kim Jong-nam, saudara tiri pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un. (AFP)

Oleh: Natasia Christy Wahyuni / WIR | Jumat, 17 Februari 2017 | 13:49 WIB

Kuala Lumpur - Polisi Malaysia kini sudah menahan tiga orang terkait kasus pembunuhan Kim Jong-nam (45), yaitu saudara tiri dari pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un. Orang ketiga yang ditahan adalah seorang pria Malaysia bernama Muhammad Farid bin Jalaluddin (26), yang diduga sebagai kekasih dari perempuan warga negara Indonesia (WNI) yang ditahan sebelumnya.

“Tersangka saat ini berada di tahanan untuk membantu penyelidikan,” kata Inspektur Jenderal Polisi, Khalid Abu Bakar, lewat pernyataannya Kamis (16/2).

Kim Jong-nam (45) diserang oleh dua perempuan di Bandara Internasional Kuala Lumpur hari Senin (13/2) saat sedang menunggu penerbangan ke Macau yang menjadi tempat tinggalnya sejak melarikan diri 15 tahun lalu. Kim secara tiba-tiba diraih lalu disemprot dengan semacam racun di wajahnya. Dia mencoba mencari pertolongan medis di bandara, tetapi tewas di ambulans saat dalam perjalanan ke rumah sakit.

Berdasarkan video CCTV di bandara, dua perempuan meninggalkan lokasi kejadian dengan taksi. Salah satu perempuan, pemegang paspor Vietnam, diidentifikasi bernama Doan Thi Huoang (29) telah ditangkap hari Rabu (15/2) saat mencoba kabur ke luar Kuala Lumpur. Sedangkan, perempuan kedua adalah WNI bernama Siti Aishah/SA (25).

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur membenarkan penangkapan seorang perempuan WNI dalam kasus pembunuhan Kim Jong-nam. KBRI saat ini terus melakukan koordinasi dengan aparat Malaysia.

“Berdasarkan data diri yang disampaikan oleh otoritas keamanan Malaysia, KBRI telah melakukan verifikasi dan berdasarkan data sementara yang ada di KBRI, perempuan tersebut berstatus WNI,” kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia, Lalu Muhammad Iqbal, kemarin.

Menurut Iqbal, perempuan WNI itu memegang paspor asli. “Berdasarkan data KBRI, paspor dan nama tersebut ada di data KBRI,” tambahnya.

Dia mengatakan tim dari KBRI Kuala Lumpur tiba di Selangor kemarin untuk meminta akses kekonsuleran kepada pemerintah Malaysia demi memastikan hak-hak hukum SA bisa terpenuhi.

“Kemlu mengonfirmasi status SA sebagai WNI sesuai basis data di KBRI Kuala Lumpur. Kemlu tidak pernah mengonfirmasi mengenai keterlibatan SA dalam dugaan pembunuhan karena itu wewenang penegak hukum di Malaysia setelah proses investigasi,” ujar Iqbal.










Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT