Istri PM Malaysia Belanjakan Perhiasan

Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Ibu Iriana Joko Widodo (kedua kanan) menyambut Perdana Menteri Malaysia Najib Razak (kiri) dan Istri Rosmah Mansor (kedua kiri) sebelum jamuan makan malam KTT IORA 2017 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin 6 Maret 2017. (Antara)

Oleh: Natasia Christy Wahyuni / WIR | Sabtu, 17 Juni 2017 | 17:45 WIB

Kuala Lumpur - Skandal dugaan korupsi pada perusahaan 1Malaysia Development Berhad (1MDB) yang melibatkan orang nomor satu Malaysia, Perdana Menteri (PM) Najib Razak ikut menyeret istrinya. Hampir sebesar US$ 30 juta (Rp 398,9 miliar) dana dari skandal tersebut diduga dipakai untuk membeli perhiasan mewah oleh istri PM, termasuk satu set berlian langka 22 karat berbentuk kalung.

Informasi itu diperoleh lewat gugatan perdata oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS). Kasus yang diajukan di Pengadilan Distrik AS di Los Angeles, Kamis (15/6) tidak menyebut nama PM Najib atau istrinya, Rosmah Mansor, tapi menyatakan kepemilikan pembelian perhiasan adalah untuk istri “Pejabat Malaysia 1”.

Sumber-sumber pemerintah Malaysia dan AS sebelumnya menyatakan “Pejabat Malaysia 1” merujuk kepada Najib. Satu set kalung berlian saja senilai US$ 27,3 juta (Rp 363 miliar), berdasarkan pengajuan gugatan terakhir yang diajukan pada Juli 2016.

Tuduhan itu akan menjadi amunisi untuk para saingan politik Najib yang kerap mengkritik istrinya karena sering melakukan pengeluaran untuk barang-barang mewah. Kasus itu juga muncul di waktu kritis saat Najib diperkirakan akan menggelar pemilu awal tahun ini.

Asisten Rosmah tidak segera menjawab permintaan media untuk mengomentari tudingan itu. Kantor PM, dalam pernyataan hari Jumat (16/6), menyatakan keprihatinan atas penamaan tidak penting dan tidak perlu atas kasus dan individu tertentu yang hanya relevan dengan manipulasi dan intervensi politik dalam negeri.

Najib secara konsisten juga membantah melakukan kesalahan.Total penyelewengan dana dari perusahaan investasi negara Malaysia, 1MDB, diperkirakan mencapai US$ 4,5 miliar. Perusahaan itu didirikan Najib pada 2009 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT