Madrasah di Kuala Lumpur Terbakar, 24 Orang Tewas

Ambulans membawa korban meninggal akibat kebakaran di sebuah pesantren di Kuala Lumpur, Malaysia. (AFP)

Oleh: Unggul Wirawan / WIR | Jumat, 15 September 2017 | 12:35 WIB

Kuala Lumpur- Setidaknya 22 santri dan dua guru tewas ketika kebakaran melanda madrasah Darul Quran Ittifaqiyah Tahfiz Center di Kuala Lumpur, ibu kota Malaysia, Kamis (14/9). Api itu mulai melalap pada Kamis (14/9) dini hari. Menteri Wilayah Federal Tengku Adnan Tengku Mansor mengatakan sekolah itu tidak memiliki izin, seperti banyak sejumlah sekolah lainnya.

Para korban kemungkinan besar terperangkap dalam pondokan mereka dan kesulitan meloloskan diri karena jendela-jendelanya dilengkapi teralis besi. Seperti dikutip situs TNP.sg, Direktur Pemadam Kebakaran Khirudin Drahman mengatakan komponen dan jaringan listrik di lokasi kejadian dalam keadaan baik, sehingga dipastikan penyebabnya bukan akibat hubungan arus pendek.

"Ini merupakan kebakaran terburuk yang pernah terjadi di Malaysia selama 20 tahun terakhir," kata Khirudin Drahman, kepala departemen pemadaman kebakaran, seperti dikutip kantor berita Prancis, AFP.

Polisi sempat menyebut bahwa korbannya 25 orang, namun diralat. Dalam perkembangan terakhir, polisi menyebut bahwa korban tewas terdiri dari 22 santri dan dua orang staf pengajar.

Menurut polisi, para santri itu semuanya laki-laki, berusia antara 13 hingga 17 tahun.

Sebagian besar santri di pesantren tahfiz -hafalan Al Quran - itu tinggal di pondokan. Kebakaran mulai terjadi kamis sekitar pukul 05:40 (04:40 WIB), di bagian pondokan santri.

Gambar dan video yang beredar di internet menunjukkan lantai atas pesantren yang dilalap api. Petugas mengatakan, tim pemadaman kebakaran segera tiba dalam hitungan menit dan api dipadamkan dalam tempo satu jam.

Perdana Menteri Najib Razak mengungkapkan simpati kepada orang-orang yang terkena dampak. Seorang menteri, Loga Bala Mohan, mengatakan bahwa insiden tersebut harus diselidiki "sehingga kita dapat mencegah bencana seperti ini di masa depan."

"Kami bersimpati kepada keluarga, ini adalah salah satu kebakaran terburuk yang melibatkan begitu banyak nyawa di ibu kota dalam beberapa tahun terakhir," kata Loga Bala Mohan, menurut AFP.

Pihak berwenang Malaysia pernah mengemukakan kekhawatiran atas standar keselamatan di pesantren dan sekolah agama swasta yang tidak masuk sistem.

Media setempat melaporkan, sejak tahun 2015 telah terjadi lebih dari 200 kebakaran di pesantren tersebut.




Sumber: Suara Pembaruan, BBC,
ARTIKEL TERKAIT