Rusia Akan Bantu Korut untuk Berdialog dengan AS

Rusia Akan Bantu Korut untuk Berdialog dengan AS
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un (kedua kanan) melihat perangkat logam di lokasi yang tidak diketahui. Korea Utara telah mengembangkan bom hidrogen yang dapat dimasukkan ke dalam rudal balistik antarbenua. ( Foto: AFP )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Jumat, 8 Desember 2017 | 17:19 WIB

Wina - Korea Utara ingin melakukan dialog dengan Amerika Serikat (AS) demi memastikan keamanannya, terkait hal itu Rusia menyatakan siap untuk membantu. Hal itu disampaikan usai pertemuan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson dengan Menlu Rusia Sergey Lavrov terkait perkembangan isu Korut.

Lavrov menyatakan Moskwa siap memfasilitas pembicaraan tersebut. “Kita tahu di atas semua, Korut ingin berbicara dengan AS tentang jaminan keamanannya. Rusia siap untuk mengambil bagian memfasilitasi pembicaraan semacam itu,” kata Lavrov di Wina, Austria, usai bertemu Tillerson di sela-sela peretmuan Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE), Kamis (7/12).

Lavrov menegaskan semua pihak yang terlibat dalam krisis Korea harus memutus lingkaran konfrontasi, skema dan sanksi sembrono. Sebaliknya, setiap pihak harus terlibat dalam dialog yang berarti.

Dia juga menekankan bahwa latihan militer Amerika dekat Semenanjung Korea dan retorika agresif Washington, hanya akan membawa kepada peningkatan ketegangan selanjutnya. “Ini tidak bisa diterima,” kata Lavrov.

Pada Kamis, kepala Komite Urusan Luar Negeri Senat Rusia, Konsantin Kosachev, bertemu dengan duta besar Korut untuk Moskwa dan membicarakan situasi di semenanjung. Menyusul pertukaran dengan Kim Young Jae, Kosachev menyatakan Pyongyang sama sekali tidak tertarik dengan ketegangan yang terjadi. Tapi, Kim mengatakan Pyongyang juga tidak takut akan perang.

Kosachev menyatakan cara terlayak untuk menyelesaikan krisis adalah dialog semua pihak yang relevan dan upaya bersama untuk menurunkan ketegangan. Dia menegaskan akan melakukan apa pun untuk mencegah peningkatan ketegangan.

“Kami sama sekali tidak tertarik pada peningkatan ketegangan dalam setiap tindakan militer,” kata Kosachev kepada kantor berita Interfax.

Sementara itu, Korut menyatakan ancaman AS tidak terhindarkan setelah kedatangan dua pesawat pengebom AS, B-1B, dalam latihan gabungan berskala besar dengan Korea Selatan.

Latihan tahunan AS-Korsel bertajuk “Vigilant Ace” menampilkan 230 pesawat, termasuk beberapa pesawat siluman AS yang paling canggih. Latihan inii digelar hanya berselang seminggu setelah Korut melakukan uji rudal balistik antarbenua yang diklaim bisa menjangkau AS.



Sumber: Suara Pembaruan