Khawatir kekerasan Terulang, LSM Global Ancam Boikot Kamp Rohingya

Khawatir kekerasan Terulang, LSM Global Ancam Boikot Kamp Rohingya
Sejumlah pengungsi warga Rohingya berjalan setelah menyeberangi sungai Naf dari Myanmar menuju Bangladesh di Whaikhyang, 9 Oktober 2017. ( Foto: AFP / Fred Dufour )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Senin, 11 Desember 2017 | 17:21 WIB

Yangon -  Kelompok-kelompok bantuan yang terdiri dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) global menyatakan akan memboikot setiap kamp-kamp baru yang dibangun bagi para pengungsi Rohingya yang dipulangkan ke Rakhine State. Mereka mendesak agar para pengungsi harus dikembalikan ke rumah-rumah asal mereka.

Hal itu tertuang lewat pernyataan bersama yang ditandatangani oleh belasan organisasi kemanusiaan termasuk LSM Save The Children dan Oxfam. Kelompok-kelompok itu prihatin dengan pengumuman terbaru bahwa Myanmar akan memulai repatriasi (pemulangan kembali) para pengungsi Rohingya dari Bangladesh dalam dua bulan ini.

Lebih dari 620.000 minoritas Muslim telah melarikan diri ke distrik Cox's Bazar sejak akhir Agustus, ketika militer Myanmar meluncurkan tindakan keras terhadap pemberontak di utara Rakhine State. Setelah menandatangani kesepakatan repatriasi dengan Myanmar pada November, Bangladesh menyatakan para pengungsi awalnya akan ditempatkan di penampungan sementara di Rakhine State.

Pengumuman itu memicu kekhawatiran bahwa pengungsi akan menghadapi terulangnya situasi yang dihadapi lebih dari 100.000 Rohingya di pusat Rakhine, yang masih terjebak di kamp-kamp kumuh sejak mereka dipindahkan akibat kekerasan tahun 2012.

“Tidak boleh ada kamp-kamp tertutup atau kamp seperti permukiman. LSM Internasional tidak akan beroperasi di kamp-kamp seperti itu jika mereka diciptakan,” sebut pernyataan kelompok-kelompok bantuan tersebut, Sabtu (9/12).

Aliansi LSM itu juga mendesak agar semua pengungsi kembali ke Rakhine secara sukarela. Sementara itu, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyatakan kampanye militer, yang telah menghancurkan desa-desa warga Rohingya, tampaknya merupakan pembersihan etnis dan kemungkinan memiliki elemen genosida. Namun, tuduhan itu dibantah pemerintah dan militer Myanmar.

Meskipun serangan kekerasan terburuk tampaknya telah mereda dalam beberapa bulan terakhir, warga Rohingya masih saja menyeberang perbatasan untuk menuju ke Bangladesh. Badan PBB untuk Pengungsi (UNHCR) meminta agar perdamaian dan stabilitas ditegakkan terlebih dulu di Rakhine State sebelum dimulainya proses repatriasi pengungsi.



Sumber: Suara Pembaruan