Koalisi Oposisi Malaysia Calonkan Mahathir Jadi Kandidat PM

Koalisi Oposisi Malaysia Calonkan Mahathir Jadi Kandidat PM
Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad saat diwawancarai AFP di kantornya, di Kuala Lumpur, 14 Juni 2012. ( Foto: AFP Photo / Saeed Khan )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Senin, 8 Januari 2018 | 17:33 WIB

Kuala Lumpur -Koalisi oposisi Malaysia menunjuk mantan perdana menteri (PM) Mahathir Mohamad sebagai kandidat PM untuk pemilihan umum tahun ini. Mahathir yang pernah menjabat PM selama 22 tahun, sudah berusia 92 tahun dan menghadapi tugas tidak mudah jika terpilih nantinya.

Pemimpin oposisi populer, Anwar Ibrahim, masih berada di penjara sehingga Mahathir tampaknya menjadi ancaman terbesar untuk calon petahana yang kini diliputi skandal korupsi, PM Najib Razak. Meskipun demikian, sebuah survei independen menunjukkan oposisi akan mendapatkan kesulitan untuk mengalahkan Najib karena perpecahan dalam aliansi mereka sendiri serta perubahan batasan pemilihan yang tidak menguntungkan.

Sementara itu, istri Anwar yang juga Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR), Wan Azizah Wan Ismail, juga diumumkan sebagai calon deputi PM. Penetapan Mahathir dan Wan Azizah untuk pemilu Agustus mendatang dilakukan oleh kubu oposisi Pakatan Harapan dalam konvensi tahunan di Shah Alam, Minggu (7/1).

Mahathir dan bekas musuhnya, Anwar, rujuk kembali untuk menggulingkan Najib dengan membentuk aliansi oposisi. Kemenangan oposisi dalam pemilu juga berpotensi membuka jalan bagi Anwar untuk kembali dan mengambil alih posisi PM. Menurut sekjen aliansi, Saifuddin Abdullah, jika oposisi menang, mereka bisa segera memulai proses untuk mendapatkan pengampunan kerajaan bagi Anwar agar bisa menjabat PM.

Koalisi oposisi Pakatan Harapan terdiri dari empat partai yaitu Partai Pribumi Bersatu Malaysia pimpinan Mahathir Mohamad, PKR pimpinan Wan Azizah, Partai DAP, dan Partai Amanah. Pemilu Malaysia dijadwalkan bulan Agustus, tapi spekulasi mencuat perhelatan itu akan dilakukan beberapa bulan mendatang.

“Fokus utama kami adalah menyelamatkan negara tercinta. Tidak mudah bagi partai-partai yang sebelumnya menjadi musuh saya untuk menerima saya, tapi mereka menyadari pentingnya meruntuhkan pemerintahan saat ini,” kata Mahathir dalam pidatonya usai penetapan sebagai calon PM.

Mahathir dikenal sebagai pemimpin otoriter selama menjabat PM. Dia kembali ke dunia politik setelah mundur 15 tahun lalu, dengan dalih membersihkan negara dari skandal korupsi Najib yang melibatkan perusahaan investasi 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

Dalam gugatan sipil, Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) menduga penyalahgunaan sebesar US$ 4,5 miliar dari 1MDB. Aksi pencucian uang itu dibantah oleh Najib yang mendirikan 1MDB pada 2009. Najib juga dinyatakan tidak bersalah oleh Kejaksaan Agung.



Sumber: Suara Pembaruan