Untuk Kasus Pornografi Anak Daring, Malaysia Peringkat Teratas

Untuk Kasus Pornografi Anak Daring, Malaysia Peringkat Teratas
Ilustrasi penolakan pengeksploitasian anak-anak dalam pornografi. ( Foto: Bionicbong )
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 31 Januari 2018 | 17:31 WIB

Kuala Lumpur -Negara Malaysia berada di peringkat teratas kasus pornografi anak dalam jaringan (daring) internet. Hal itu terungkap dari jumlah alamat IP asal Malaysia yang terbanyak dalam mengunggah dan mengunduh foto dan visual pornografi anak di wilayah Asia Tenggara.

Dalam seminar tentang "Cyber Protection for Children", di Kuala Lumpur, Selasa (30/1), Polisi Malaysia Asisten Komisaris Ong Chin Lan mengatakan data menunjukkan, hampir 20.000 alamat IP di Malaysia mengunggah dan mengunduh foto dan visual pornografi anak. Jumlah IP itu merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara.

Menurut Ong, kepolisian Belanda yang berbasis di Malaysia pada tahun 2015 memberikan data yang menunjukkan bahwa sekitar 17.338 alamat IP yang terlibat dalam pornografi anak berasal dari Malaysia.

Ong mengatakan data menunjukkan bahwa sebelum tahun 2014, rata-rata 60 anak setahun diserang secara seksual oleh pelaku yang mereka ajak berteman melalui internet.

Angka tersebut meningkat menjadi 184 anak pada tahun 2015 dan 183 anak pada tahun 2016. Pada tahun 2017, angka tersebut sempat turun menjadi 117 anak, pada Mei 2017.

Diketahui, sekitar 51% anak berusia antara 13 dan 15 tahun berteman dengan pelaku melalui aplikasi pesan WeChat. Saluran lain yang digunakan termasuk Facebook, WhatsApp dan Beetalk.

Menurut survei oleh Malaysian Communication and Multimedia Commission mengenai anak-anak antara 10 dan 17 tahun pada tahun 2015, sebagian besar, atau 91,6%, memiliki satu ponsel sebelum usia 15 tahun sementara 88,5% memiliki akun Facebook atau media sosial lainnya.

Tanpa Pantauan

Data kepolisian juga menemukan bahwa hanya 35,6% orangtua yang memantau aktivitas anak-anak mereka. Banyak orangtua Malaysia membiarkan anak-anak mereka menggunakan ponsel tanpa memantau mereka, dan lebih dari 60% anak menghabiskan waktu di kamar percakapan daring di internet setiap hari.

Tokoh lain yang mengungkapkan tren yang mengkhawatirkan adalah bahwa 60 persen anak perempuan dan 40% anak laki-laki akan terus bertemu dengan orang-orang yang mereka berteman secara daring.

Chen Pei Ling dari organisasi non-pemerintah PS The Children mengungkapkan selama seminar bahwa dari 10 anak yang disurvei oleh kelompok tersebut, tiga mengaku telah bertemu dengan "pacar" yang belum pernah mereka temui sebelumnya.

Angka dari United Nations Children's Fund (Unicef) menunjukkan bahwa lebih dari 60% anak-anak atau remaja menghabiskan waktu di kamar percakapan daring setiap hari. Sekitar tiga dari empat anak bersedia menukar informasi mereka untuk "barang dan jasa".



Sumber: Suara Pembaruan