Sekjen ASEAN Surit Pitsuwan
ASEAN mengharapkan Myanmar akan bisa memberikan penjelasan mengenai  konflik komunal antara mayoritas Buddha dan minoritas Muslim dari etnis  Rohingya yang terus berlangsung.

Konflik tersebut mengakibatkan mengalirnya arus pengungsi Rohingya ke sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Hal ini dikatakan oleh Sekretaris Jenderal ASEAN Surin Pitsuwan, Rabu (25/7) kepada wartawan di Sekretariat Asean seusai presentasi hasil pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) ke-45 di Phnom Penh, Kamboja awal bulan ini.

"Akan ada penjelasan lengkap dari Myanmar karena isu ini sangat penting  dan kritikal bagi ASEAN sebagai suatu komunitas yang saling berbagi dan  peduli," ujar Surin.
 
Ditambahkannya, penjelasan itu diharapkan sudah bisa didapat sebelum  pertemuan menteri-menteri luar negeri ASEAN yang berikutnya, diperkirakan pada September 2012 di New York, Amerika Serikat di sela-sela Sidang Umum PBB.
 
Surin mengatakan pihaknya telah berbicara secara langsung mengenai  hal ini dengan Menteri Luar Negeri Myanmar U Wunna Maung Lwin dan Menlu Bangladesh Dipu Moni di sela-sela rangkaian pertemuan ASEAN di Phonm Penh.
 
"Saya pahami bahwa mereka sudah mendapat kemajuan dalam pencarian fakta  mengenai apa yang terjadi tapi kami belum mendengar hal yang spesifik  atau konkret mengenai itu," ujar Surin.
 
Menteri-menteri Luar Negeri ASEAN sejak tahun 2009 telah menyatakan isu kaum etnis Rohingya di Myanmar adalah isu yang kritikal di  ASEAN dan telah memandatkan Sekretariat ASEAN untuk memantau situasi  mereka.
 
Surin mengatakan pihaknya  telah berkomunikasi dengan pemerintah Myanmar bahkan sejak sebelum pemerintahan sipil yang sekarang memerintah.

"Komunikasi itu terus berjalan untuk memahami isu tersebut dengan  lebih jelas."
 
Walaupun isu ini telah menarik perhatian dunia internasional, Surin  tidak dapat memastikan apakah persoalan ini akan termasuk dalam  pernyataan bersama menlu-menlu ASEAN yang akan segera dikeluarkan oleh Kamboja.

Sebelumnya, menlu ASEAN gagal menghasilkan resolusi di Phnom Penh  menyusul ketidaksepakatan negara-negara anggota mengenai pembahasan  sengketa Laut China Selatan.
 
"Saya tidak ingat secara pasti tapi hal itu dibicarakan di sela-sela  pertemuan dan pada waktu itu saya kira Myanmar dan Bangladesh sangat paham bahwa komunitas ASEAN sangat prihatin akan isu tersebut," ujar Surin.

Penulis: