Sengketa Maritim Memanas, China Operasikan Kapal Induk i

Ilustrasi--Peta Laut China Selatan

Oleh: | Selasa, 25 Sepember 2012 | 21:14 WIB
Mungkin berupaya menunjukkan kemampuan tentara AL China yang bisa memicu kekhawatiran negara tetangga.

China mulai mengoperasikan  kapal induk seiring memanasnya sengketa maritim dengan Jepang, Selasa (25/9).

Negara tersebut mungkin berupaya menunjukkan kemampuan tentara angkatan laut (AL), yang bisa memicu kekhawatiran negara tetangga.

Berdasarkan penjelasan pihak kementerian pertahanan China, kapal induk yang diberi nama Liaoning itu akan memperkuat AL secara keseluruhan dan secara efektif melindungi kedaulatan, keamanan, serta kepentingan-kepentingan negara.

Pada dasarnya, kapal yang sudah melalui proses reparasi dan berasal dari Ukraina ini memiliki peran terbatas.

Kapal induk Liaoning diperuntukkan pada pelatihan dan uji coba menjelang peluncuran kapal induk buatan China pertama kalinya setelah 2015, demikian pendapat sejumlah analis.

Meski demikian, persoalan sengketa pulau masih membayang-bayangi China maupun Jepang.

“China tidak akan pernah mentoleransi segala tindakan bilateral oleh Jepang yang membahayakan teritorial kedaulatan China,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Zhang Zhijun.

Jepang, lanjut dia, harus menyingkirkan ilusi, melaksanakan refleksi pencarian dan melakukan tindakan-tindakan yang konkret untuk memperbaiki segala kesalahan.

Zhang juga menyampaikan agar Jepang kembali pada konsensus dan kesepakatan yang sudah disetujui kedua kepala negara.

Risiko konfrontasi militer cenderung kecil, tapi ketegangan politik antar dua negara ekonomi besar di Asia ini berpotensi memburuk. Sedangkan bagi AL China, penambahan armada kapal induk sudah menjadi sebuah prioritas untuk mengembangkan kemampuan.

China tercatat sudah menyampaikan seruan pada Amerika Serikat (AS), sehubungan dengan agresi Presiden Barack Obama ke wilayah Asia. Negeri Tirai Bambu itu mengingatkan AS tidak ikut terlibat dalam sengketa teritorial di kawasan Laut China Selatan, yang melibatkan Tiongkok dan sejumlah sekutu AS termasuk Filipina.

Menteri Luar Negeri (Menlu) AS, Hillary Clinton juga telah menyampaikan desakan pada RRT dan negara-negara tetangganya di kawasan Asia Tenggara, untuk menyelesaikan sengketa tanpa paksaan, intimidasi, ancaman, dan menggunakan kekuatan angkatan bersenjata.

Narushige Michishita, ahli keamanan dari Institut Pascasarjana Nasional di Tokyo, Jepang, berpendapat bahwa pengiriman kapal induk tersebut tidak terkait dengan sengketa kepulauan. 

“China sedang berupaya meningkatkan kemampuan strategi angkatan laut,” kata dia. Ketegangan di Laut Cina Timur semakin kompleks dengan masuknya sejumlah kapal Taiwan , yang juga mengklaim kepemilikan pulau di wilayah sengketa.

Sumber:
ARTIKEL TERKAIT