Ilustrasi Bank Jatim.

Jakarta - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) sebagai salah satu bank pelaksana program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) ternyata baru membiayai satu unit rumah dari target 500 unit rumah tahun ini.

Hal itu terjadi karena minimnya minat pengembang (developer) untuk membiayai rumah FLPP atau rumah subsidi yang dinilai terlalu murah.

"Untuk FLPP, kamu baru membiayai satu rumah. Jualnya memang sulit, harus gathering dulu. Di Lamongan sudah ada empat peminat yang mengajukan permohonan, tapi pengembangannya belum. Problemnya memang ada di supplier," kata Kepala Divisi Agrobisnis dan Ritel Bank Jatim Salusin seusai paparan kinerja triwulan I-2013 di Jakarta, Rabu (24/4).

Selain di Lamongan, Jawa Timur, terdapat sekitar 100 peminat di Banyuwangi dan Bojonegoro, Jawa Timur. Namun, Salusin mengungkapkan, para pengembang menilai harga rumah subsidi melalui skim FLPP terlalu murah, meskipun peminatnya cukup banyak.

Hal itu membuat para developer belum menyelesaikan proyek perumahan subsidi. Padahal, kata dia, bank termasuk Bank Jatim biasanya baru bisa membiayai rumah yang sudah dibangun atau siap dibangun.

"Ini sampai Bupatinya menyosialisasikan juga," tukas dia.

Sekadar informasi, Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) menargetkan pembiayaan 121 ribu unit rumah melalui skim Kredit Pemilikan Rumah (KPR) FLPP. Angka itu terdiri dari 120.500 unit rumah tapak dan 50 unit rumah susun tahun ini.

Pada 2012, pembiayaan rumah melalui FLPP tercatat hanya sebanyak 73.923 unit, dengan nilai penyalurannya sebesar Rp 3,03 triliun.

Kemenpera mencatat, sepanjang tahun 2012, BTN masih menjadi bank penyalur sebagian besar KPR FLPP sebanyak 67.728 unit.

Dari persebarannya, mayoritas pembiayaan masih di pulau Jawa sebanyak 46.069 unit, disusul pulau Sumatera sebanyak 15.742 unit. Khusus untuk wilayah Jawa Timur tercatat ada 5.212 unit rumah yang dibiayai melalui FLPP, tanpa ada yang dibiayai oleh Bank Jatim.

Investor Daily

Penulis: GRC

Sumber:Investor Daily