Ilustrasi perbankan

OJK Proyeksi Kredit Perbankan 2017 Tumbuh 13,2%

Ilustrasi perbankan (Istimewa)

Jakarta- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis industri perbankan pada tahun 2017 akan lebih baik dibandingkan tahun ini menyusul pertumbuhan ekonomi nasional serta perbaikan global. Hal ini juga didorong keberhasilan program Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) dan pemulihan harga komoditas. OJK memperkirakan, kredit bank akan tumbuh sebesar 13,25 persen menjadi Rp 4.995 triliun dari tahun 2016 yang mencapai Rp 4.411 triliun.

“Saya sampaikan perbankan Indonesia pada tahun 2017 jauh lebih baik dari tahun 2016,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad di kantor OJK, Jakarta, Jumat (30/12).

Pada tahun 2017, OJK juga memperkirakan total aset perbankan Indonesia akan tumbuh sebesar 11,28 persen menjadi Rp 7.352 triliun dari Rp 6.607 triliun di tahun 2016. Adapun dana pihak ketiga (DPK) akan tumbuh 11,94 persen menjadi Rp 5.304 triliun dari tahun 2016 yang mencapai Rp 4.738 triliun.

Sebagai gambaran, penyaluran kredit perbankan hingga November 2016 mencapai Rp 4.285 triliun atau tumbuh 8,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kredit didominasi investasi sebesar 11,75 persen, konsumsi sebesar 7,39 persen dan kredit modal kerja mencapai 7,34 persen. Sedangkan sektor usaha yang paling tinggi adalah sektor listrik sebesar 40,17 persen, konstruksi 21,42 persen, administrasi pemerintah 18,38 persen dan pertanian 16,67 persen.

"Sedangkan untuk kredit usaha rakyat (KUR) yang telah disalurkan perbankan sampai November 2016 mencapai Rp 87,7 triliun atau mencapai 80,3 persen dari target yang mencapai Rp 109,21 triliun," kata Muliaman.

Sementara rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) perbankan relatif rendah yakni 3,18 persen gross dan 1,38 persen untuk net. Begitu juga rasio kredit bermasalah (non performing financing/NPF) di pembiayaan hanya 3,2 persen. “NPL 2016 ini merupakan dampak 2015 terutama dari pertambangan. Diharapkan pada 2016 dan 2017 beban NPL bisa ditekan seiring berkurangnya risiko sektor pertambangan," tukasnya.

Muliaman mengharapkan, kredit sektor ketahanan pangan seperti peternakan dan perkebunan yang menjadi lokomotif ekonomi, ada perbaikan, sehingga NPL 2017 akan membaik. "Di sektor unggulan lainnya seperti pariwisata, energi dan maritim juga diharapkan NPL akan turun," kata Muliaman.

Menyinggung likuiditas perbankan, Muliaman mengatakan pada tahun ini sudah agak longgar karena dana repatriasi Tax Amnesty. Selain itu, sumber likuiditas juga diperoleh dari program tabungan Simpel yakni tabungan untuk pelajar. Hingga pertengahan Desember 2016 dana yang terkumpul dari program ini sebesar Rp 842,77 mliar dengan 3 juta rekening. Selain itu program Laku Pandai, yakni program layanan keuangan tanpa kantor ini berhasil meraup dana Rp 93,79 miliar dengan 1,94 juta nasabah.



Suara Pembaruan

Lona Olavia/WBP

Suara Pembaruan