Agus Martowardojo.

Bank Mulai Siap Turunkan Suku Bunga Kredit

Agus Martowardojo. (Antara)

Jakarta- Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai adanya perbaikan ekonomi di dunia membuat perbankan di tahun 2017 sudah mulai siap melakukan penataan termasuk dalam hal bunga kredit.

Menurutnya, kalangan perbankan baru siap menurunkan suku bunga kreditnya karena di tahun lalu mereka masih antisipasi terhadap dampak perekonomian global yang penuh ketidakpastian terutama setelah Donald Trump memenangi Pilpres AS. Namun, setelah 20 Januari 2017 pada saat Presiden AS yang baru Donald Trump akan dilantik beserta persiapan jajaran kabinetnya diyakininya ekonomi dunia sudah bisa mulai menyesuaikannya. Apalagi banyak dari janji kampanye Donald Trump yang urung dilakukan.

“Harusnya di kredit bank masih bisa turun saat bank itu stabil. Mereka sebelumnya antisipasi di akhir tahun, mereka masih takut karena ekonomi dunia tidak pasti terutama setelah Pemilu AS. Tapi, setelah 20 Januari ekonomi tampaknya sudah jelas dan sudah ada peningkatan bunga pada Desember untuk Fed Fund Rate. Jadi, dengan restrukturisasi yang baik, ekonomi dunia membaik sehingga bank siap melakukan penataan termasuk bunga kreditnya. Kedepan ada ruang buat bank lakukan penyesuaian,” ujarnya usai pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Selasa (3/2).

Indonesia, di tahun 2016, menurut Agus, merupakan tahun pemulihan yang pastinya akan lebih baik dibanding tahun 2016. Bahkan, Indonesia masuk sebagai salah satu negara diantara sedikit negara yang ekonominya bisa membaik. Sehingga, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang masih terjaga di 3,1 persen, diyakini pertumbuhan kredit bisa lebih baik lagi sehingga bunga bank bisa menurun.

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan transmisi kebijakan BI terhadap suku bunga perbankan, khususnya kredit. Setidaknya ada lima faktor yang memengaruhi.

Pertama, permintaan kredit dari swasta saat ini minim. Hal itu disebabkan oleh permintaan dari domestik dan global rendah. Rata-rata kapasitas produksi industri saat ini 78 - 79 persen. Artinya, ruang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri masih ada sekitar 20 persen sehingga industri tak perlu menambah produksi atau berekspansi.

Kondisi ini berbeda dibandingkan saat pertumbuhan ekonomi di kisaran enam persen, kapasitas produksinya mencapai 89 - 90 persen. “Jadi sebagian besar perusahaan masih punya spare capacity untk memenuhi permintaan domestik,” kata Perry.

Kedua, prospek pertumbuhan ekonomi domestik dan global. Di domestik, BI menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dari 5 - 5,4 persen menjadi 4,9 - 5,3 persen tahun ini. Sedangkan di tingkat global, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan dari 3,2 menjadi 3,1 persen. Begitu juga dengan proyeksi tahun depan, dari 3,3 - 3,4 persen menjadi 3,2 persen. Hal ini menunjukan prospek permintaan domestik dan internasional ke depan.

Ketiga, bank sentral memandang likuiditas saat ini masih cukup baik. Hal itu didapat dari penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) 1,5 persen yang akan menambah likuiditas Rp 37 triliun di perbankan hingga akhir tahun. Kemudian, aliran masuk modal asing (capital inflow) ke portfolio mencapai US$ 10,5 miliar atau Rp 114 - 115 triliun sejak awal tahun.

Keempat, tingginya risiko atas kenaikan rasio kredit bermasalah, Non Performing Loan (NPL), yang saat ini 3,1 persen gross dan 1,5 persen netto. Meningkatnya NPL didorong oleh menurunnya permintaan sehingga menekan keuntungan perusahaan, utamanya di sektor pertambangan.

Guna mengantisipasi risiko ini, bank harus menyisikan keuntungannya untuk pencadangan dana atau provisioning. Provisioning merupakan pengeluaran yang dicadangkan untuk mengimbangi kredit bermasalah.

Kelima, pemenuhan rasio keuntungan atau profitabilitas. Karena masalah ini, suku bunga kredit sulit turun meskipun suku bunga deposito sudah terkontraksi 0,91 persen. Permintaan kredit yang sedikit tetap kurang untuk menutupi biaya bunga yang harus dibayarkan bank kepada deposan (cost of fund), sehingga mengurangi potensi keuntungan dari bunga.

 



Suara Pembaruan

Lona Olavia/PCN

Suara Pembaruan