Joe Frazier, musuh bebuyutan Muhammad Ali, meninggal 8 November 2011
Joe Frazier memukul jatuh Ali dalam laga perdana keduanya 8 Maret 1971, di New York Madison Square Garden
Ali selalu bilang, dia tidak akan jadi siapa-siapa tanpa saya. Tetapi memang, akan jadi apa dia tanpa saya?

Joe Frazier, petinju perkasa yang terkenal tidak gampang menyerah, juara dunia tinju kelas berat, dan yang namanya abadi karena terlibat dalam tiga pertarungan epik melawan Muhammad Ali, wafat pada usia 67 tahun, demikian kata manajernya Selasa seperti dilaporkan Reuters.

Joe Frazier yang pernah mengalahkan Ali, wafat di Philadelphia, Amerika Serikat, sebulan setelah didiagnosa menderita kanker hati. Leslie Wolff, manajer Frazier, mengkonfirmasi wafatnya petinju besar itu.

Selama hidupnya Frazier memenangkan banyak gelar, antara lain medali emas tinju kelas berat untuk AS pada Olimpiade Tokyo 1964 dan memegang sabuk tinju kelas berat dunia dari tahun 1970 hingga 1973.

Nama Frazier melegenda karena seri trilogi pertarungannya dengan Ali pada era 1970an. Frazier memenangkan pertarungan pertama mereka, sementara Ali memenangkan dua laga terakhir.

Meskipun kedua petinju sama-sama berasal dari lingkungan kulit hitam dan juga memenangkan medali emas Olimpiade, kepribadian mereka jauh berbeda. Ali adalah seorang petarung karismatis yang narsis. Frazier adalah orang yang angkuh, tidak tedeng aling-aling, dan putus sekolah pada usia 13 tahun.

Frazier pertama kali merebut sabuk kelas berat dunia pada tahun 1970, mengalahkan juara bertahan Jimmy Ellis sementara di saat yang sama Ali dilarang untuk berpartisipasi dalam kejuaraan tinju dunia sejak 1967 karena menolak wajib militer dalam Perang Vietnam.

Setelah Ali diperbolehkan kembali bertarung, dia langsung menghadapi Frazier pada 8 Maret 1971, di New York Madison Square Garden, dan digadang-gadang sebagai "Pertarungan Abad Ini".

Dalam pertarungan itu Ali dipaksa mencium kanvas setelah menerima hook kiri Frazier di ronde 15. Ali memang bangkit kembali saat itu, tetapi Frazier kemudian keluar sebagai pemenang.

Pertarungan itu dikenang sebagai laga yang brutal karena setelah itu dua jawara itu harus dilarikan ke rumah sakit. Pada 1973 Frazier kehilangan gelar di tangan George Foreman.

Pertemuan kedua Ali - Frazier terjadi pada 1974. Ali keluar sebagai pemenang setelah laga 12 ronde. Ali kemudian mendapat kesempatan menghadang Foreman dan berhasil merebut sabuk kelas berat.

Pertarungan ketiga sekaligus pamungkas antara Frazier dan Ali digelar pada 1 Oktober 1975. Laga yang digelar di Manila, Filipina itu hingga saat ini masih dikenang sebagai salah satu momen olah raga terakbar di muka Bumi. Pertarungan itu dijuluki "The Thrilla in Manila"

The Thrilla in Manila

Frazier mengaku masih menyimpan luka setelah pertarungan dengan Ali 36 tahun lalu itu.

"Saya adalah saya, dan iya, saya menghajar Ali tiga kali," Frazier bercerita kepada New York Times pada 2006.

"Ali selalu bilang, dia tidak akan jadi siapa-siapa tanpa saya. Tetapi memang, akan jadi apa dia tanpa saya?" ketus Frazier ketika itu.

Di Manila, Ali dan Frazier saling hantam selama 14 ronde sebelum pelatih Frazier, Eddie Futch, menghentikan pertandingan. Frazier masih duduk di sudutnya, salah satu matanya membengkak. Frazier tidak pernah memaafkan Futch karena memberikan kemenangan teknis itu kepada Ali.

Ali memang keterlaluan. Ia menyebut Frazier "gorila" dan "Uncle Tom", istilah yang mengacu pada budak kulit hitam yang selalu taat pada tuannya, si kulit putih.

Untuk membalasnya, Frazier tidak pernah memanggil musuhnya itu dengan Muhammad Ali, tetapi menggunakan nama kelahirannya Cassius Clay. Ali mengganti nama pada tahun 1964 setelah dia memeluk Islam.

Frazier lahir di South Carolina pada 1944 dan menjadi anak bungsu dari 12 bersaudara. Ia bercerita pamannya pernah mengatakan dia akan menjadi Joe Louis berikutnya. Joe adalah petinju besar AS berdarah Afrika yang jaya di era 1937 - 1949.

Frazier pensiun setelah kekalahannya yang kedua dari Foreman pada 1976, meskipun pernah bertarung lagi pada 1981. Dia hanya kalah dari Ali dan Foreman.

Ali selalu menjadi legenda yang dipuja-puja, tetapi tidak dengan Frazier. Hari-hari terakhirnya pun dia lewatkan di sebuah apartemen kecil, di atas sebuah gym, tempat dia melatih bakat-bakat muda di Philadelphia. Dia kehilangan seluruh kekayaanya.

Pada tahun 1980an Frazier pernah menjadi manajer putra tertuanya, Marvis, yang terkenal setelah kalah dari Larry Holmes dan Mike Tyson. Putri Frazier, Jacquelyn Frazier-Lyde, juga menjadi petinju perempuan tetapi kalah dari putri Ali pada 2001.

Penulis:

Sumber:Reuters