Petugas tengah mengevakuasi jasad dua anggota kepolisian yang ditemukan tewas mengenaskan di Poso, Sulawesi Tengah.
Terduga teroris yang tewas dalam baku tembak di Poso, Sulawesi Tengah, sejak pagi tadi, diketahui bernama Jipo asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Jipo diduga merupakan anggota jaringan di bawah kendali Santoso yang dituduh bertanggungjawab terhadap pembunuhan dua anggota polisi yang hilang di Poso sejak 8 Oktober dan sejumlah teror lainnya di Poso.

Bersama Jipo juga ada Wage alias Abdusalam yang merupakan ipar Firdaus. Namun, Wage telah lebih tewas beberapa hari lalu di lokasi kejadian  karena bom jebakan yang dia rakit.

Berdasarkan penelusuran, Jipo diduga kuat terkait dengan Ponpes Umar bin Khatab di Bima yang dulu digrebek oleh Densus/88. Saat itu Firdaus tewas tertembak.
 
"Saat ini masih terjadi baku tembak dan giat masih berjalan," kata sumber Beritasatu di kepolisian, yang tidak mau disebutkan namanya saat dihubungi dari Jakarta, hari ini.
 
Diburu Tim Elit
Seperti diberitakan, gelombang pertama peleton tempur Brimob, Kelapa  Dua, Depok yang berkualifikasi Gerilya Anti Gerilya (GAG) dikirimkan ke  Poso sejak 2 Oktober lalu.
 
"Ada 32 orang yang berangkat, Mas. Senjata yang dibawa juga siap tempur, M14 dan Glock. Ini pleton bentukan Kepala Korps Brimob (Irjen) Syafei Aksal," kata sumber di lingkungan Mabes Polri saat dihubungi, Selasa (30/10).
 
Untuk bisa bergabung dalam pleton ini, sumber itu melanjutkan, mereka harus mempunyai pengalaman lima kali berangkat ke operasi di daerah  konflik. Mereka dilatih di Watukosek, Pasuruan, dan pemantapan tempur di Kelapa Dua selama tiga bulan.
 
Mereka ini adalah tim elit milik Brimob selain tim lain, yakni CRT  (Crisis Respond Team) yang berkualifikasi handal di medan perkotaan. Pengirim tim ini adalah respons saat dua anggota polisi ditemukan tewas dengan kondisi yang mengenaskan pada Selasa (16/10).

Kedua polisi itu ditemukan tewas di  lokasi latihan jaringan teroris yang disebut polisi terkait JAT (Jamaah Anshoru Tauhid). Hanya saja JAT telah keras membantahnya. Mereka hilang di sekitar Tamanjeka, Poso. Kawasan itu bersama dengan Gunung Biru adalah basis teroris.

Sebaliknya, Santoso telah mengirimkan surat yang berisi tantangan kepada Densus/88 untuk perang secara terbuka dan menyiapkan sejumlah ranjau yang telah ditemukan di lokasi. Santoso adalah buron kasus teror nomor wahid saat ini. Namanya selalu muncul dalam setiap pengungkapan kasus terorisme.
 
Santoso adalah jaringan Abu Tholut alias Mustafa yang diyakini polisi merupakan panglima perang JAT. Hanya saja JAT, yang didirikan Abu Bakar Baasyir, berulangkali membantah dan menyatakan jika Tholut sudah keluar dari JAT.
 
Nama Santoso kembali muncul ada Senin (8/10) saat Densus 88/Mabes Polri menangkap buron teror bernama Imron di Palu, Sulawesi Tengah, tak jauh dari Poso. Imron merupakan lulusan Pondok Pesantren Darussaadah, Boyolali, Jawa Tengah. Pondok Pesantren ini adalah tempat dimana salah satu aktor pelaku bunuh diri dalam Bom Bali 2005 bernama Salik Firdaus menuntut ilmu.

Penulis: