Ilustrasi mengisi BBM. (Foto: Jakarta Globe)

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi defisit APBN adalah tren kenaikkan harga minyak yang saat ini mencapai $111 per barel


Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan tengah fokus untuk melakukan efisiensi pada belanja Kementerian dan Lembaga (K/L) untuk mengantisipasi melesetnya target defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013 yang dipatok 1,65 persen.

Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Rofyanto Kurniawan menjelaskan salah satu faktor utama yang mempengaruhi defisit APBN adalah tren kenaikkan harga minyak yang saat ini mencapai $111 per barel atau diatas asumsi APBN yang US$100 per barel,

Namun Kemenkeu dipastikan terus melakukan upaya antisipasi dengan melakukan berbagai simulasi (exercise) kisaran harga minyak tertentu dengan melihat daya dukung fiskal.

“Yang pasti memang kalau harga minyak naik, defisitnya akan naik. Kite exercise kira-kira kenaikan subsidi (BBM) itu bisa dikompensasi dari sumber-sumber mana yang bisa diefisienkan,” ujar Rofyanto di kantornya, Jakarta, Jumat (15/2).

Lebih lanjut Rofyanto menjelaskan pihaknya juga fokus pada kuota volume BBM subsidi yang sebesar 46 juta kilo liter pada tahun ini. Target kuota ini diperkirakan kemungkinan besar akan terlampaui mengingat angka pertumbuhan konsumsi BBM subsidi masyarakat bisa mencapai 8 persen setahun, atau paling tidak mencapai 48 juta Kiloliter pada tahun ini.

Dia juga menambahkan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sudah mencapai Rp 9.700 per dolar AS, diatas asumsi APBN Rp 9.300 per dolar AS, turunnya realisasi lifting minyak berperan menyumbang defisit pada tahun ini.

Concern kita lebih pada ke volume BBM-nya, yang pasti APBN cuma 46 juta KL, kalau katakanlah tahun 2012 (realisasi) 45 juta KL, pertumbuhannya 7-8 persen tandanya kan ke 48 juta KL. Yang kita khawatirkan kalau di atas itu sampai 50 juta KL, nah itu dampaknya ke subsidi akan sangat besar. Apalagi rupiah terdepresiasi, produksi minyak juga turun, kita masih monitor itu terus,” jelas dia.

Menurut Rofyanto pihaknya mempertimbangkan dana cadangan yang ada dan mencari belanja KL yang bisa diefisienkan dalam melakukan simulasi. Namun dia mengaku belum mencoba simulasi terkait jumlah utang untuk menutupi kebutuhan APBN.

Investor Daily

Penulis: WYU/FMB

Sumber:Investor Daily