Seorang pria menunjukkan perangkat konverter gas yang sudah dipasang di dalam mobil . FOTO ANTARA/Rosa Panggabean
Diperlukan perangkat khusus agar bahan bakar gas ini bisa kompatibel

Keputusan pemerintah untuk membatasi penggunaan bahan bakar minyak bersubsidi makin mendorong tuntutan adanya bahan bakar alternatif dengan harga terjangkau sebagai pengganti premium.

Solusi yang ditawarkan pemerintah adalah gas alam, namun karena hampir seluruh kendaraan di Indonesia mengkonsumsi BBM, maka diperlukan perangkat khusus agar bahan bakar gas ini bisa kompatibel.

Alat ini bernama converter kit, belum diproduksi masal apalagi dijual, padahal pembatasan BBM bersubsidi ini dijadwalkan efektif 1 April atau kurang dari dua bulan lagi. Pemerintah sudah menunjuk PT Dirgantara Indonesia sebagai pembuat alat ini.

Seperti apa converter, dan bagaimana memasangnya, lalu mobil jenis apa yang bisa memakai diesel atau bensin, dan apakah aman digunakan, apa bisa converter dipasang tanpa persetujuan asuransi dan prinsipal pembuat mobil, kemudian apa bedanya dengan mobil hybrid, seberapa hemat pemakaiannya, dan berapa jarak tempuh mobil per liter BBG, dibandingkan BBM, terakhir dimana beli dan pasangnya?

Direktur Teknologi PT DI Eka Wahyono mengatakan, converter kit bisa digunakan untuk mesin mobil injeksi maupun karburator. Masing-masing converter memiliki varian, yaitu untuk pemakaian CNG (Compressed Natural Gas) dan LGV (Liquified Gas for Vehicles).

Prinsip dasar converter BBM adalah mengubah, seperti namanya, mengkonversi mesin kendaraan yang tadinya menggunakan bensin, seperti premium, pertamax dan lainnya sehingga juga dapat menerima BBG. Konsepnya, gas disimpan dalam tangki seperti layaknya bensin. CNG berbentuk gas, sedangkan LGV adalah gas yang berbentuk cair.

CNG memiliki tekanan yang tinggi, yaitu sebesar 200 bar sehingga memerlukan reducer untuk menurunkan tekanan sebelum masuk ruang bakar atau karburator. Berbeda dengan CNG, LGV memiliki tekanan yang jauh lebih kecil, yakni 18 bar. Namun, karena berbentuk cair LGV perlu diuapkan terlebih dahulu dengan menggunakan evaporator untuk diubah ke bentuk gas.

Kendaraan yang menggunakan converter BBM memiliki istilah Bi-fuel, artinya berbahan bakar ganda. Intinya, kendaraan bisa beroperasi dengan dua jenis bahan bakar.

"Istilahnya seperti punya makanan pengganti, kalo bensin habis, bisa jalan pakai yang gas, begitupun sebaliknya," ujar Eka, yang mengepalai proyek ini, dalam wawancara di awal pekan.

Berbeda dengan kendaraan hybrid yang bisa menyerap energi dalam keadaan mesin menyala, Eka menyarankan pengguna bahan bakar gas untuk tetap mematikan mesin dalam proses pengisian bahan bakar demi keamanan.

"Tempat pengisian bahan bakar kan sudah pasti ada standar keamanannya.
Jadi sebaiknya tetap diikuti saja aturannya. Inikan salah satu prinsip kehati-hatian," ujarnya.

Eka menambahkan Indonesia sangat kaya akan sumber gas bumi. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa harga CNG lebih murah ketimbang LGV yang memiliki banyak tahapan proses pengolahan minyak mentah.

"Dalam pembuatan CNG, gas bumi dikompres dalam tekanan tinggi dan dimurnikan, setelah itu bisa langsung digunakan," jelas Eka

"Setahu saya bulan Desember di Palembang harga CNG hanya Rp2.950, sedangkan LGV Rp4.200. Mungkin di tempat lain bisa berbeda karena belum ada ketetapan harga dari pemerintah," tambahnya.

Kendala Infrastruktur

Salah satu kendala program konversi BBM ke BBG ini adalah ketersediaan infrastruktur. Eka mengakui bahwa stasiun pengisian bahan bakar yang menyediakan CNG masih terlampau sedikit.

Padahal, sebagai pengganti premium dan untuk memenuhi kebutuhan transportasi umum, CNG idealnya dapat ditemukan di banyak stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Eka mengatakan sulitnya infrastruktur untuk pengadaan CNG menjadi sebab sedikitnya SPBU yang menjual CNG. "Untuk mengubah dispenser di SPBU menjadi LGV, paling hanya memerlukan waktu 3-4 bulan. Sedangkan untuk CNG, harus membangun jaringan pipa terlebih dahulu. Infrastruktur kita untuk CNG masih miskin," jelas Eka.

Gabungan Teknologi Italia dan Korea

Teknologi yang dipakai dalam pembuatan converter BBM ala PT DI mengacu pada teknologi Itali dan Korea Selatan, lanjut Eka. Gabungan antara kemajuan teknologi Itali yang pesat dan improvement yang diciptakan Korea diyakini sebagai duet terbaik dalam pembuatan converter BBM.

Eka mengakui bahwa soal harga, Korea memasang angka yang lebih murah daripada Itali. "Karena memang canggih ya, transfer teknologi dari Itali lebih sulit. Korea lebih gampang diajak berkompromi. Makanya kita pakai dua-duanya," ujarnya sambil tertawa.

Converter Mobil Diesel Setahun Lagi

Untuk pengadaan converter BBM untuk mesin diesel, Eka mengatakan bahwa
telah ada masterplan untuk converter BBM berjenis solar yang akan direalisasikan tahun 2013. Kalau converter bensin berkonsep Bi-fuel, converter BBM diesel mengenal istilah Dual-fuel.

Konsep Bi-fuel artinya mesin mobil hanya bisa memilih salah satu, antara gas atau bensin. Sedangkan Dual-fuel, “solar dan gas keduanya dipakai bersamaan dalam persentase tertentu. Ini lebih rumit," jelas Eka.

Berbagai perusahaan di Palembang dan Kalimantan telah cukup lama mengadopsi teknologi penggunaan bahan bakar gas untuk kendaraan diesel. Konversi ini dilakukan secara independen demi mengurangi ongkos transportasi. Namun, berbeda dengan konsep Dual-fuel, mesin kendaraan diubah total sehingga hanya bekerja dengan menggunakan bahan bakar gas.

Garansi, Asuransi, Keselamatan

Bahan bakar gas juga dinilai aman untuk mobil-mobil mewah yang mengunakan BBM beroktan tinggi. Premium memiliki oktan terkecil yaitu 88, disusul pertamax 92, pertamax plus 93-95, LGV 95-98, dan CNG di atas 100.

"Jadi tidak ada masalah," ujar Eka ketika ditanya apakah converter ini juga bisa diaplikasikan di mobil-mobil mewah seperti BMW dan Mercedes.

Persoalan yang dapat terjadi, menurut Eka, adalah soal garansi dan asuransi. Sampai saat ini masih ada pertanyaan mengenai kejelasan dari pihak pemberi garansi maupun asuransi soal pemasangan converter BBM di kendaraan.

"Misalnya saya beli mobil baru, lalu saya pasang converter BBM, garansi saya masih ada atau tidak? Asuransi mobil saya gimana? Pihak pemberi garansi dan asuransi tentu harus memberi penjelasan," ujar Eka.

Soal keamanan produk, Eka berjanji akan memenuhi ketentuan standar keselamatan yang berlaku di Indonesia. "Aman tidak aman tentu ada aturannya. Kalo di Indonesia kan kita percaya  dengan adanya SNI (Standar Nasional Indonesia)," jelas Eka.

Rencana pengadaan converter kit BBM secara masal, ditegaskan Eka, tentu wajib memiliki seritfikat SNI. Untuk converter BBM yang telah diproduksi, Eka mengklaim bahwa PT DI menggunakan standar International dan Eropa.

Walau percaya diri dengan standar internasional yang digunakan, penetapan SNI yang saat ini sedang diolah tetap sangat penting. "Target 1 April SNI beres," tegas Eka.

Standar keamanan meliputi uji pecah dan tekanan pada tabung. Tabung converter BBM memiliki diameter sekitar 25-30 cm dan panjang 80-90 cm. "Wujudnya kira-kira mirip dengan tabung LPG 12 kg," jelasnya. Tabung yang baik dan berkualitas dapar bertahan hingga limit tekanan tertentu.

PT DI menggunakan komposit sebagai material pembuat tabung. "Tabung CNG beroperasi pada 200 bar dan tidak boleh bocor pada 300 bar. Normalnya, diatas 650 bar tabung baru pecah. Itu regulasinya," terang Eka.

Seperti layaknya makanan, converter BBM yang berharga sekitar Rp10 juta - Rp15 juta  ini juga memiliki expiry date. Jangka waktu daya guna secara teori bisa mencapai 20 tahun, tapi tidak pasti karena berbeda-beda tergantung gaya penggunaan dan maintenance.

"Karena itu diharapkan masyarakat jangan sok pinter dan kreatif dengan mengutak-atik sendiri alat tersebut. Serahkan saja pada ahlinya," tegasnya.

Saat converter BBM dilempar ke pasaran, pembelian satu unit akan meliputi pemasangan dan perawatan. Untuk perawatan, akan dipercayakan pada bengkel-bengkel yang tersertifikasi khusus.

Susah Untuk Mobil Kecil

Menurut hasil uji, tabung converter dapat dimuat dalam bagasi kendaraan, namun akan sedikit sulit pada mobil-mobil kecil. "Seperti mobil (Honda) Jazz, (KIA) Picanto, dan (Suzuki) Karimun kan bagasinya kecil ya. Mungkin di situ bakal sulit dipasangnya," jelasnya.

Tetapi hal ini tidak akan menjadi masalah karena telah ada desain converter BBM yang menyerupai bentuk ban. "Udah ada di Thailand dan Korea. Bentuknya kayak donat dan kira-kira sebesar ban jadi sesuai untuk mobil kecil," tambahnya.

PT Dirgantara Indonesia memiliki tim berjumlah 200 orang yang lebih dari separuh terdiri dari para teknisi dan engineer, siap untuk memproduksi converter kit secara massal.

Namun, saat ini pemesanan converter masih terbatas dan belum dijual bebas, menuggu komando dari pemerintah. "Kami sebagai penjual selama ada pembeli dan izin dari atas, kami siap," tukas Eka

"PTDI mendukung pemerintah dalam pemakaian energi. Kita butuh kemandirian energi yang lebih. Hal ini penting bagi ketahanan energi nasional. Ini juga mencakup kesadaran masyarakat untuk menggunakan produk lokal agar Industri nasional semakin bangkit dan menyerap tenaga kerja," tambahnya.

Penulis: