Ilustrasi perkebunan kelapa sawit
Ide menyatukan seluruh BUMN perkebunan dimulai sejak Menteri BUMN Sugiharto  pada tahun 2006. Hampir enam  tahun berlalu dengan empat menteri, holding perkebunan tak selesai.

Sejak tahun 2006, pemerintah berencana membentuk holding BUMN perkebunan. Namun, hingga kini masih berbentuk rencana. Jika terealisasi, holding BUMN perkebunan digadang-gadang menjadi perusahaan perkebunan terbesar di dunia.

Pemerintah mengklaim jika holding BUMN perkebunan terbentuk dan seluruh BUMN perkebunan, mulai dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I hingga PTPN XIV, serta PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) bersatu, maka secara lahan, BUMN perkebunan RI akan menjadi BUMN perkebunan terbesar di dunia, mengalahkan perusahaan perkebunan raksasa dunia milik Malaysia, Sime Darby.

¨Kalau BUMN perkebunan terbentuk, secara lahan, kita akan menjadi perusahaan perkebunan terbesar di dunia, mengalahkan Sime Darby,¨ ungkap Menteri BUMN Dahlan Iskan hari ini.

Hingga semester pertama 2011, total lahan 15 BUMN perkebunan mencapai 1,47 juta hektare dengan total aset mencapai Rp 48,2 triliun. Areal tersebut merupakan lahan kelapa sawit, karet, kakao, teh, kopi, dan tebu. BUMN Perkebunan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,714 triliun pada semester pertama 2011 atau melonjak 354,33% dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun lalu. Realisasi laba bersih tersebut didongkrak oleh melejitnya harga komoditas perkebunan, terutama karet dan crude palm oil (CPO).

Jika dibandingkan dengan swasta, Laba 15 BUMN perkebunan ini masih jauh tertinggal. Laba bersih PT Astra Agro Lestari misalnya, pada semester pertama 2011 mencapai Rp 1,31 triliun. Adapun PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) meraup laba bersih mencapai Rp 361,657 miliar pada semester satu 2011. Laba dua perusahaan swasta itu sama dengan laba seluruh BUMN perkebunan. Padahal, luas lahan PT Sampoerna cuma 205 ribu hektar dan PT Astra seluas 265 ribu hektar.

¨Sekarang ini produktivitas BUMN perkebunan hanya mencapai 6%, padahal perusahaan BUMN lainnya bisa mencapai 20%. Untuk itu akan kita tingkatkan melalui pembentukan holding, tetapi tidak langsung, mungkin pada awal-awal akan kita tingkatkan bertahap dari 10% kemudian 15% dan 20%,¨ ungkap Dahlan.

Ide menyatukan seluruh BUMN perkebunan sudah dimulai sejak era kepemimpinan Sugiharto sebagai Menteri BUMN pada tahun 2006. Namun, hampir enam  tahun berlalu dengan empat Menteri yang silih berganti, holding perkebunan ini tak kunjung rampung.

Penulis: /FER