Federasi Pilot Indonesia Tak Setuju Pencabutan Lisensi Terbang i

Ilustrasi: pilot pesawat

Oleh: | Rabu, 8 Februari 2012 | 12:39 WIB
Dalam dua tahun pilot yang positif narkoba harus direhabilitasi untuk dibersihkan.

Federasi Pilot Indonesia (FPI) yang menaungi sedikitnya 6.000  pilot di Indonesia tidak setuju dengan sanksi pencabutan izin atau lisensi terbang oleh otoritas terkait.

Para pilot Lion Air yang  kedapatan menggunakan narkoba akhir-akhir ini sebenarnya adalah para korban yang harusnya direhabilitasi.
 
Presiden FPT Presiden FPI Capt Hasfrinsyah Hs mengatakan, UU tentang Narkotika menyebutkan pemakai narkoba harus direhabilitasi selama dua tahun, sebaliknya pengedar bisa dikenakan pasal pidana. Jika memang UU itu dijalankan, maka dalam dua tahun pilot yang positif narkoba harus direhabilitasi untuk dibersihkan.
 
"Tidak usahlah dicabut lisensinya, cukup disimpan saja oleh otoritas (dibekukan sementara), teman-teman itu kan para korban harusnya direhabilitasi untuk memastikan apakah dia clean," kata dia dalam  konferensi pers di Kantor FPI di Gedung Garuda, Jakarta, hari ini.
 
Hasfrinsyah mengatakan, dalam dua tahun masa rehabilitasi, pilot otomatis tidak bisa mengikuti empat kali medical check up yang menjadi syarat para pilot. Begitu juga jam terbang tidak terpenuhi. Artinya, para pilot memiliki konsekuensi yang harus ditanggung  dalam karirnya. Meski demikian, pilot yang bersangkutan masih memiliki kesempatan memperbaikinya.
 
"Kalau dua tahun dia sudah clean dia masih bisa aktifkan lagi lisensinya, tapi apakah maskapai masih terima, itu urusan lain. Kami sendiri di FPI juga tak ada sanksi bagi anggota kami yang memang kena  persoalan narkoba," kata dia.
 
Anggota Badan Kehormatan FPI Adhy Gunawan mengungkapkan, dengan  dicabutnya lisensi terbang, dikhawatirkan pilot bersangkutan dendam. Dikhawatirkan, pilot akan memanfaatkan pergaulannya dengan pilot lain, atau pramugari, untuk menjadi pengguna narkoba dengan sumber dari pilot tersebut.
 
"Maka dari itu dalam kasus seperti ini, marilah lakukan kerjasama yang baik. Bahkan kami menghimbau kepada para pilot bilang merasa tidak fit katakan saya tidak fit, jika merasa tidak sehat katakan tidak sehat, jika merasa stres katakan stres, dan minta untuk tidak terbang. Operator juga harus legowo soal ini," kata dia.
 
Meski menyatakan para pilot Lion Air adalah 'korban'. FPI melansir bahwa para pilot Lion Air tidak tergabung dalam FPI. FPI merupakan gabungan dari asosiasi pilot dari maskapai Garuda Indonesia, Merpati Nusantara  Airlines, Pelita Air Services, Sriwijaya Air, Batavia Air, Trigana Air Services, dan National Utilility Helikopter. Sebelum berhenti operasi, asosiasi pilot Mandala Airlines juga tergabung dalam FPI.



Sumber:
ARTIKEL TERKAIT