PERESMIAN SMELTER MANGAN. Menko Perekonimian Hatta Rajasa melakukan peletakan batu pertama di lokasi smelter Mangan di Desa Benu, Kecamatan Takari, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (11/2). Dengan bekerjasama dengan PT Jasindo Utama pemerintah siap membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) mineral logam magan dengan kapasitas produksi mencapai 24 ribu ton per bulan, dengan nilai investasi total sebesar Rp 1,1 trilliun.
Pembangunan pabrik tersebut terutama karena Peraturan Menteri (Permen) nomor 7 tahun 2012 yang mewajibkan bahan tambang mineral di Indonesia untuk diberi nilai tambah sebelum diekspor mulai 2014.

Perusahaan gabungan antara China dan Korea Selatan, Jasindo Utama, berencana membangun pabrik pengolahan mangan di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Pabrik yang berkapasitas 24 ribu ton per bulan itu diperkirakan menelan biaya sekitar Rp1,1 triliun.

Pembangunan pabrik tersebut terutama karena Peraturan Menteri (Permen) nomor 7 tahun 2012 yang mewajibkan bahan tambang mineral di Indonesia untuk diberi nilai tambah sebelum diekspor mulai 2014.

“Kami menangkap peluang tersebut karena mulai 2014 besok kan bahan tambang tidak boleh diekspor tanpa diolah terlebih dahulu,” ujar Humas Jasindo Utama, Kukuh Riyadi, saat dihubungi hari ini.

Proyek tersebut akan dibangun dalam tiga tahap, yaitu tahap I dimulai September 2011 sampai dengan Mei 2013, tahap II Agustus 2013 sampai dengan Oktober 2014, dan tahap III Januari 2015 sampai dengan Agustus 2016.

Kapasitas pabrik tersebut pun akan bertahap, yaitu 3.000 ton per bulan pada tahap pertama, 6.000 ton per bulan pada tahap kedua, dan akhirnya 24.000 ton per bulan.

“Kami nanti akan menampung bahan tambang dari penambang kecil di sekitar Kupang,” lanjut Kukuh.

Saat ini terdapat sekitar 100 tambang mangan di Kupang dengan produksi lebih dari 50.000 ton per bulan.

Pembangunan Smelter
Pembangunan smelter untuk pabrik tersebut diresmikan oleh Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, pada hari ini.

Kukuh mengatakan untuk pembangunan smelter tersebut saat ini ijin pembangunan smelter saat ini masih dalam proses di Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral. “Tapi kita ingin segera cepat untuk mendapatkan ijin tersebut,” ujar Kukuh.

Dengan produksi tersebut, Jasindo Utama merencanakan untuk mengekspor mangan ke Korea Selatan dan kawasan Asia Timur lainnya dengan target US$ 30 juta per bulan pada produksi maksimal, yang diperkirakan akan bisa dicapai pada 2016 nanti.

Sementara untuk pasar domestik, kata Kukuh, pihaknya akan memasok Krakatau Steel di Banten.

Penulis: