Kereta Api Ekonomi
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Perhubungan mulai mewujudkan pendirian akademi perkeretaapian Indonesia pada tahun depan.
 
"Kami sebenarnya sudah ada di Bekasi, yaitu Sekolah Tinggi Transportasi Darat, setingkat dengan D4 (diploma empat), tetapi ini akan lebih ke masalah teknisnya, mengarah kepada pendidikan bagi inspektor kereta api," terang Bobby Mamahit, Kepala BPSDM dalam wawancara khusus dengan Beritasatu.com di kantornya, belum lama ini.
 
Pendirian akademi perkeretaapian tersebut yang dibangun di Madiun, Jawa Timur sudah dimulai sejak tahun 2010 dan diharapkan sudah akan selesai pada tahun 2013.

Hingga kini, Bobby mengatakan sedang dilakukan penyelesaian pembangunan kampus dan gedung rektorat sebelum membentuk organisasi dan memulai masa pendidikan.
 
"Akademi ini nantinya D3 dan mendapatkan akreditasi dari Kemendikbud. Jadi, nanti lulusannya ini semacam masinis, inspektor, yang menjalankan alat-alatnya. Mereka juga bisa melanjutkan ke Bekasi untuk D4, jadi pendidikan yang terintegrasi," kata Bobby.

Untuk angkatan pertama, jelasnya, akan dibuka untuk 60 orang terlebih dahulu dengan usia tidak boleh lebih dari 23 tahun.

"Kami mau bikin ‘crash progam' dulu, dengan beasiswa, karena masih baru dan perlu diperkenalkan biar bisa menjaring banyak minat. Awalnya kita akan penuhi kebutuhan regulator dulu, yaitu pemerintah daerah," tambahnya.

"Kita minta dari pemda-pemda yang dilalui oleh kereta api untuk bisa kirimkan ke akademi. Nantinya kan akan bisa memenuhi kebutuhan mereka juga. Ke depannya, baru kita buka untuk non-aparatur."
 
Kegiatan akademi perkeretaapian tersebut akan mencakup Diploma III Sarana, Diploma III Prasarana, dan Diploma III Lalu Lintas dan Angkutan.

Selain itu, kegiatan penelitian berupa penelitian dosen, membangun sistem, dan menerbitkan jurnal atau buletin juga diharapkan bisa melengkapi kurikulum akademi tersebut.

"Kita mendirikan di Madiun karena PT Inka (PT Industri Kereta Api) juga berada di sana, jadi bisa pinjam alat-alat untuk praktiknya," kata Bobby.
 
Untuk para pengajarnya, Bobby mengatakan mereka akan disiapkan dari internal BPSDM, Ditjen Perkeretaapian, PT KAI, PT Inka, PT Len, PT Pindad, dan lembaga universitas yang berkompeten di bidang kereta api dari dalam dan luar negeri.

"Kalau kereta api yang mengajar nanti senior-senior di kereta api. Pasti ada, ini kereta api sudah ada sejak zaman Belanda. Tidak seperti mencari dosen untuk laut," katanya.

Pendirian akademi tersebut, paparnya, sudah harus dilakukan mengingat kebutuhan mendesak untuk menyediakan sumber daya manusia (SDM) yang mempunyai kompetensi di bidang teknis perkeretaapian.

Berdasarkan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional, kebutuhan SDM Kereta Api di Indonesia, yang mencakup perencana (administrasi), penguji sarana perkeretaapian, penguji prasarana perkeretaapian, inspektur (auditor) mencapai 1.720 orang sampai dengan tahun 2030.


Penulis: