Ilustrasi ruang tunggu di bandara
Pengembangan bandara baru di Yogyakarta mutlak dilakukan karena Bandara Adi Sutjipto tidak bisa dikembangkan lagi.

PT Angkasa Pura I (Angkasa Pura Airports) dan GVK Group (India) sedang mempersiapkan pembentukan perusahaan patungan (joint venture company/JVC) untuk membangun dan mengelola bandara baru di  Yogyakarta dengan kebutuhan investasi sekitar Rp 1,2 triliun.

Sesuai  aturan, kepemilikan GVK Group dibatasi maksimal 49 persen di JVC sedangkan 51 persen lain dimiliki Angkasa  Pura Airport secara tunggal (single majority).

Direktur Komersial Angkasa Pura Airports Robert D Waloni mengungkapkan, pihaknya telah menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan perusahaan asal India tahun lalu.

Kedua pihak telah menyelesaikan studi kelayakan (feasibility study/FS), yang kini dilanjutkan dengan penyusunan rencana induk (master plan) yang butuh waktu tiga bulan dan setengah bulan telah terlampui. Setelah tuntas baru diajukan ke Kemenhub.

“Sambil menunggu itu, kami kini tengah melakukan negosiasi dengan pembentukan JVC dengan GVK Group. JVC diharuskan karena memang aturannya begitu, bahkan GVK sudah membentuk badan hukum Indonesia. Share holding ini masih dibahas, mudah-mudahan bisa segera selesai,” katanya, hari ini.

Menurut Robert, pengembangan bandara baru di Yogyakarta mutlak dilakukan karena Bandara Adi Sutjipto tidak bisa dikembangkan lagi, terutama dari sisi udara (air side). Selain memiliki kondisi obstacle yang kurang menguntungkan, selama ini merupakan bandara enclave sipil yang dioperasikan bersama dengan TNI AU, sehingga kerap kali penerbangan harus delay karena hal itu.

“Dalam konsep pengembangan bandara ini, Adi Sutjipto yang saat ini masih beroperasi akan direlokasi ke bandara baru tersebut. Ini kasusnya seperti Bandara Selaparang yang direlokasi ke Mataram dan namanya Bandara Internasional Lombok (BIL), atau nanti Bandara Polonia yang direlokasi ke Bandara Kualanamu,” kata dia.

Di sisi lain, sambil menunggu hasil penyusanan time frame tentang pengembangan bandara baru di Yogyakarta tersebut, Angkasa Pura Airports tetap akan mengembangkan Bandara Adi Sutjipto dengan melakukan optimalisasi. BUMN kebandarudaraan itu mengalokasikan dana Rp 90 miliar untuk melakukan renovasi terminal yang sedianya tuntas trilwulan II-2012.

Informasi dari Pemprov Yogyakarta sebelumnya menyebutkan, dua lokasi calon bandara baru yang sudah diteliti di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, dan Sanden Kabupaten Bantul. Bandara ini akan memiliki runway 5.400 meter dan mampu menampung pesawat berbadan besar. Total investasi sekitar Rp 1,2 triliun.

Penulis: /FER