Indonesia Miliki Potensi Panas Laut Terbesar di Dunia

Ilustrasi laut. (Antara)

Oleh: Euis Rita Hartati / WBP | Minggu, 6 Agustus 2017 | 10:51 WIB

Cilegon - Indonesia memiliki potensi cadangan panas bumi di dasar laut (Ocean Thermal Energy Conversion/OTEC) terbesar di seluruh dunia. Potensi ini menjadi sumber energi alternatif yang menjanjikan untuk dikembangkan di masa mendatang.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) Ediar Usman mengatakan, OTEC merupakan bagian dari energi baru terbarukan dan bersumber dari perbedaan temperatur air laut yang mudah ditemukan pada perairan laut tropis.

"Potensi OTEC di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, tersebar di pantai barat Sumatera, Selatan Jawa, Sulawesi, Maluku Utara. Bali dan Lembata NTT. PPPGL telah mengkaji dan meneliti potensi OTEC pada 17 lokasi sebesar 41 GW," jelasnya pada saat melaksanakan uji coba (Sea trial) Kapal Riset Geomarin III di Selat Sunda, Minggu (6/8).

Sea trial ini merupakan persiapan pelaksanaan penelitian identifikasi cekungan sedimenter untuk mendukung penyiapan wilayah kerja (WK) minyak dan gas bumi (Migas) Perairan Arafura, Papua dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) di perairan Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut dia, potensi energi panas laut di perairan Indonesia diprediksi menghasilkan daya sekitar 240.000 MW. Indonesia bagian timur memiliki nilai ΔT (perbedaan suhu) lebih besar dari Indonesia bagian barat.

Adapun pemanfaatan OTEC akan berdampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitarnya. Energi ini bernilai ekonomi lebih tinggi dibanding sumber energi lainnya. Energi ini menghasilkan listrik dan air murni akibat penguapan air laut.

Contoh pembangkit OTEC dalam skala kecil ada di Kumijima, Jepang dan Hawai. Sementara Tiongkok, Korea Selatan dan India, saat ini sedang membangun pembangkit OTEC dengan kapasitas 10 megawatt (MW). "PPPGL telah merancang langkah strategis dalam riset OTEC, terutama menentukan lokasi prospek seluruh Indonesia sebagai dasar investasi OTEC," katanya.

Langkah tersebut meliputi survei potensi regional dan rinci, teknis dan ekonomis, survei potensi di Bali Utara dan Lembata menggunakan Geomarin III (2017), dilanjutkan pra-studi kelayakan dan studi kelayakan (2018).

Selain itu, kajian aspek teknis dan ilmiah lainnya termasuk sosial, budaya dan ekonomi, pemilihan lokasi pilot project di Indonesia serta dukungan pemerintah pada pengembangan OTEC.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT