Pemerintah Sosialisasi Pentingnya Pajak ke Sekolah-sekolah

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kanan) bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy (kedua kiri), Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi (kanan) dan Staf Ahli Menristekdikti Bidang Infrastruktur Hari Purwanto (kiri) menghadiri acara Pajak Bertutur di Jakarta, 11 Agustus 2017. (Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Oleh: Maria Fatima Bona / AO | Sabtu, 12 Agustus 2017 | 18:27 WIB

Jakarta - Menyadari pentingnya pajak untuk pemerataan pembangunan, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengadakan sosialisasi pajak kepada siswa dan mahasiswa dengan tajuk "Pajak Bertutur". Kepala KPP Pratama Jakarta Pulogadung Slamet Bagio mengatakan, sosialisasi dilakukan untuk memperkenalkan generasi muda, yakni siswa dan mahasiswa, terhadap pentingnya membayar pajak untuk membantu pembangunan infrastruktur. 

Dijelaskan, memperkenalkan pajak pada generasi muda sejak dini penting agar alam bawah sadar mereka tertanam semangat untuk wajib membayar pajak. Pasalnya, berdasarkan data wajib pajak, dari 250 juta wajib bayar pajak, baru 30 juta yang memiliki NPWP dan hanya 1,5 juta yang melapor pajak.

"Menjadi tugas besar kita untuk 10 sampai 20 tahun yang akan datang. Jadi, kami membidik anak-anak untuk mengerti pajak mulai dari SD, SMP, SMA, hingga pendidikan tinggi dengan  pemberian materi  kesadaran pajak  bertahap. Anak SD ini, selain selalu teringat, mereka pulang rumah juga akan menyampaikan lepada orangtua akan pentingnya membayar pajak,” kata Bagio saat konferensi pers tentang program "Pajak Bertutur" di Sekolah Global Sevilla Pulo Mas, Jakarta, Jumat (11/8). 

Ia menambahkan, mulai hari ini DPJ melaksanakan program "Pajak Bertutur" secara serentak di 2.000 sekolah se-Tanah Air. Tercatat ada 110.000 pelajar dan mahasiswa yang berpartisipasi. Selain itu, kegiatan ini menjadi bagian dalam pemecahan rekor pada Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). Pasalnya, Pajak Bertutur dilaksanakan pada waktu yang sama di Indonesia, yaitu pada pukul 09.00 WIB, pukul 10.00 WITA, dan pukul 11.00 WIT secara serentak.

Dijelaskan, pemerintah melaksanakan program itu karena negara bisa  melaksanakan kegiatan ketatanegaraan dengan baik jika ditunjang dengan  pajak. Pasalnya, pajak menempati 75% APBN. Tanpa pajak, negara akan kolaps, seperti yang terjadi di Yunani. Utang negara membengkak karena tidak ada wajib pajak. 

Bagio juga mengatakan, pengenalan "Pajak  Bertutur" dilakukan sesuai tingkatan sekolah. Program itu dijalankan dengan metode yang menyenangkan melalui permainan, tugas-tugas, dan dinamika kelompok. Sehingga, pengenalan pajak tidak membosankan dan dapat mewujudkan program pemerintah yang gencar melakukan pembangunan.

Sementara itu, Direktur Sekolah Global Sevilla Robertus Budi Setiono mengatakan, pihaknya akan selalu mendukung program pemerintah, termasuk pajak yang menjadi tonggak pendapatan untuk melakukan pembangunan. Kegiatan tersebut dinilai selaras dengan dengan pembelajaran karakter yang diterapkan di sekolah.

Pembelajaran dilakukan melalui mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), yang menjadi kewajiban, termasuk kepada siswa asing yang bersekolah di sana. Dijelaskan, pelajaran PKn tidak hanya diajarkan sebatas teori, namun juga harus diaplikasikan dalam kehidupan.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengaplikasikan nilai-nilai dari pelajaran tersebut. Salah satunya menamankan kesadaran anak untuk membayar pajak.

 “Anak-anak akan diajarkan untuk peduli kepada bangsa dan negara dengan sadar menjalankan kewajiban sebagai warga negara yang baik dengan membayar pajak sesuai aturan secara penuh tanggung jawab. Mereka juga diajarkan untuk sanggup mengendalikan diri dan selalu menyisihkan pendapatan untuk membayar pajak,” ucapnya. 

Menurutnya, sosialisasi dan pemahaman terkait pajak kepada para siswa dinilai bukan sesuatu yang terlalu dini. Pasalnya, para siswa diharapkan memiliki pengetahuan dimana pajak memiliki peran besar dalam pembangunan bangsa dari berbagai sektor."Pendidikan itu tidak ada yang terlalu dini untuk disosialisasikan," kata Robertus.

Lebih lanjut dia mengatakan, salah satu contoh pendidikan karakter yang selalu ditanamkan adalah mencintai Indonesia. Dimana setiap peringatan Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus, para siswa, termasuk siswa asing, melaksanakan upacara bendera di sekolah.. 

Fat Suara Pembaruan.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT