Kemhub Minta Penyedia Jasa MRO Jalin Sinergi

Teknisi melakukan pemeriksaan mesin pesawat Garuda Indonesia di Hangar 4 Garuda Maintenance Facility (GMF), Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu 19 Maret 2016. (Antara)

Oleh: Thresa Sandra Desfika / FER | Rabu, 13 September 2017 | 19:46 WIB

Jakarta - Pemerintah mendorong sinergi antar penyedia jasa maintenance, repair, overhaul (MRO) di Indonesia, dengan tujuan meningkatkan daya saing industri perbaikan dan perawatan pesawat dalam negeri.

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan (Kemhub), Muzaffat Ismail, menyatakan, saat ini terdapat 62 perusahaan MRO di Indonesia. Seluruh perusahaan tersebut, kata dia, diharapkan bisa saling bersinergi agar industri ini dapat meningkatkan daya saingnya.

"Kami tidak butuh jumlah, tapi kami butuh yang besar namun berkualitas. Ini agar bisa bersaing, yang kita inginkan kuat," jelas Muzaffar di Jakarta, Rabu (13/9).

Menurutnya, sinergi itu bisa diwujudkan melalui bentuk kerja sama pemanfaatan kapasitas maupun kapabilitas masing-masing MRO. Dalam hal ini, dua perusahaan MRO milik BUMN dapat menjadi koordinator sinergi.

"Jadi, yang kecil dibina oleh GMF dan dibina MMF. Misalnya, untuk cek flight data recorder, enggak usah kirim ke luar, tapi dikerjakan ke anak GMF saja. Ini untuk dukung GMF juga. Jangan dikerjakan GMF semua, kan total ada 62 perusahaan MRO di seluruh indonesia," jelas Muzaffar.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA), Richard Budihadianto, menyebutkan, pangsa pasar perawatan pesawat di Indonesia terbilang besar, dengan nilai rata-rata mencapai US$ 1 miliar/tahun. Namun, potensi itu baru terserap sekitar 35 persen oleh para pelaku MRO nasional.

Guna meningkatkan daya serap tersebut, Richard menilai, memang diperlukan sinergi di antara perusahaan-perusahaan MRO dalam negeri. Namun, dalam mewujudkan sinergi tersebut, perlu ada dorongan dari pemerintah.

"Kalau digabung semuanya, bisa dilakukan jika pemerintah yang bicara. Hal ini seperti yang dilakukan Pemerintah Tiongkok. Bahkan, Airbus sampai bangun pabrik di sana," terang Richard.

Dia menambahkan, pertumbuhan pasar perawatan pesawat di Indonesia akan terus meningkat. Bahkan, nilainya bisa mencapai US$ 2 miliar pada 2022 mendatang.

 




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT