Industri Keuangan Menunjukan Pertumbuhan ke Usaha yang Lebih Besar

Kegiatan TOP Bank, Insurance, & Multifnance 2017, di Jakarta, Kamis (14/9). (Istimewa)

Oleh: Imam Suhartadi / IS | Kamis, 14 September 2017 | 22:40 WIB

Jakarta - Secara umum industri keuangan menunjukkan pertumbuhan dan migrasi ke besaran usaha yang lebih besar dari tahun lalu. Sebagai konsekuensi mereka bersaing dengan kawan-kawan dengan ukuran usaha yang lebih besar.

“Pertumbuhan menuntut tambahan ekuitas, bagaimana bersaing mendapat alokasinya dari pasar memerlukan cek arah strategi secara menyeluruh dengan ukuran laba ekonomis,” kata Ketua Penyelenggara TOP Bank, Insurance, & Multifnance 2017, M. Lutfi Handayani dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (14/9).

Dari penilaian dan riset yang dilakukan dewan juri ahli selama beberapa bulan dan berlangsung intensif, munculah beberapa perusahaan sebagai pemenang. Antara lain, Bank BRI, BCA BNI, FIFGROUP, Jasa Raharja, Jasindo, MTF, dan masih banyak lagi lainnya.

TOP Bank, TOP Insurance, dan TOP Multifinance adalah kegiatan pemberian penghargaan tertinggi di Indonesia yang diberikan setiap tahun kepada industri keuangan yang memiliki kinerja keuangan/ bisnis serta produk dan layanan terbaik, memiliki prospek bisnis yang baik, serta berkontribusi dalam pembangunan nasional.

Kegiatan ini, menjadi salah satu momentum penting dalam pembangunan perekonomian nasional, khususnya untuk memperkuat kinerja serta stabilitas sistem dan industri keuangan nasional, guna mendorong dan mempercepat pembangunan perekonomian nasional.

Tujuan dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah memberikan apresiasi dan penghargaan kepada industri keuangan dan infrastruktur di Indonesia yang telah berhasil dalam meningkatkan kinerja dan daya saingnya, serta produk dan layanan yang paling banyak mendapatkan rekomendasi dari masyarakat/ konsumen.

Selain itu, mendorong industri dan infrastruktur, untuk terus melakukan inovasi dan meningkatkan kontribusinya dalam pembangunan nasional.

Penghargaan award ini, diberikan kepada perusahaan perbankan, asuransi, dan multifinance, yang dinilai berkinerja baik, dan memiliki prospek bisnis yang cerah. “Mereka juga dinilai, sejauh mana industri keuangan telah berkontribusi dalam mendukung program-program pemerintah & OJK,” katanya.

Selain itu, Tim Penilai dan Dewan Juri juga melakukan Market Research ke masyarakat di 6 Kota Besar di Indonesia. Tujuannya adalah untuk mendapatkan indeks persepsi customer terhadap produk dan layanan Perbankan, Asuransi, dan Multifinance.

"Hasil dari research ini, setebal 100-an halaman, dan setiap pemenang berkesempatan untuk mendapatkan hasil researchnya. Ini menunjukkan kredibilitas proses penilaian yang yang dilakukan dalam award ini," tegas Suryo Danisworo, Ketua Dewan Juri .

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun menunjukkan kekokohan industri jasa keuangan Indonesia di saat ini. Berdasarkan kesimpulan Rapat Dewan Komisioner OJK di akhir Agustus 2017, risiko pasar industri jasa keuangan terlihat rendah. Persisnya, risiko yang minim terlihat ada di kredit, pasar, dan likuiditas.

Seiring dengan semua perbaikan itu, para pemenang penghargaan tersebut (yang tentu merupakan representasi terbaik dari industri jasa keuangan) diharapkan banyak dalam sejumlah hal. Antara lain, bisa terus meningkatkan kinerja keuangan, layanan, dan inovasi. “Dengan demikian, para pemenang itu semakin berperan dalam mendukung stabilitas keuangan dan pembangunan nasional,” ucap Suryo Danisworo.

Lebih lanjut, Suryo juga menambahkan tentang proses penilaian kinerja keuangan, yang dilakukan berdasarkan data keuangan 2015-2016, dengan menggunakan metoda Economic Value Added (EVA / Laba Ekonomis Plus).

Ada 3 rasio-rasio baru yang digunakan. Pertama adalah seperti yang dipopulerkan lembaga konsultasi yang dipimpin G. Bennett Stewart III, EVA Momentum atau Momentum Laba Ekonomis yang berupa selisih laba ekonomis tahun depan dibagi pendapatan tahun ini.

Kedua adalah efektivitas Investasi, yakni selisih laba ekonomis atau EVA tahun depan dibagi investasi berupa aset tetap tahun ini.

Rasio ketiga berupa selisih laba ekonomis atau EVA tahun depan dibagi oleh pendapatan operasional tahun ini. Alasan untuk rasio ini adalah untuk mengukur seberapa efektif biaya yang dikeluarkan menghasilkan pertambahan laba ekonomis yang merupakan penanda naiknya nilai perusahaan.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT