2018, Laba Bersih 70 Emiten Diproyeksi Tumbuh 14%

Ilustrasi (BeritaSatu Photo/David Gita Roza)

Oleh: Devie Kania / WBP | Kamis, 5 Oktober 2017 | 07:35 WIB

Jakarta - Berdasarkan pantauannya, PT Mandiri Sekuritas memprediksi pada 2018 laba bersih yang akan dicapai oleh 60-70 emiten di lantai bursa mencapai 14 persen secara year on year (YoY). Proyeksi kenaikan tersebut lebih rendah dibandingkan prediksi tahun ini yang tumbuh sebesar 20 persen (YoY).

Deputy of Equity Research and Banking Mandiri Sekuritas Tjandra Lienandjaja menyatakan, tahun depan memang ada potensi penurunan total laba bersih dari emiten yang di-cover Mandiri Sekuritas. Hal tersebut lebih disebabkan perbaikan kinerja yang sudah dicapai sejak 2016 dan berpotensi akan lebih tinggi lagi pada 2017.

Ia mengungkapkan, pada 2016 ada sekitar 60-70 emiten yang masuk dalam pantauan Mandiri Sekuritas dan mencatat kenaikan net profit sebesar 13 persen (YoY). Padahal pada 2015 secara total pencapaian 60-70 emiten tersebut minus 7 persen (YoY). “Namun, akhir tahun ini kami yakin total kenaikan net profit dari 60-70 yang kami cover dapat mencapai 20 persen,” ujar Tjandra di Jakarta, Rabu (4/10).

Adapun dari total emiten yang dipantau Mandiri Sekuritas, sekitar 70 persen terdiri dari delapan sektor, yakni financial, construction and materials, consumer staples, healthcare, consumer discretionary, commodities, property, dan telecomunication. Dari sisi emiten, tahun ini sektor komoditas merupakan kontributor utama kenaikan laba bersih secara total, dengan prediksi kenaikan laba sebesar 40 persen. Posisi kedua adalah properti dengan potensi kenaikan persentase net profit sebesar 35 persen (YoY) pada akhir 2017.

“Untuk komoditas kenaikan harga sudah terjadi sehingga beberapa emiten mulai meraih perbaikan kinerja (pada 2016 dan 2017). Sedangkan, emiten properti masih mampu meraih kenaikan laba bersih yang merupakan efek pencapaian marketing sales tahun sebelumnya,” ungkap dia.

Sementara pada 2018, emiten sektor komoditas yang Mandiri Sekuritas pantau, berpotensi hanya meraih kenaikan laba sebesar 2 persen (YoY). Sedangkan emiten properti diprediksi hanya tumbuh sebesar 3 persen (YoY). Pemicunya, pencapaian marketing sales beberapa emiten properti akan di bawah target akhir 2017.

Di tengah kenaikan laba bersih dua sektor tersebut yang tidak signifikan seperti 2017, Mandiri Sekuritas meyakini bahwa sektor keuangan akan menjadi kontributor utama pada 2018. Tahun depan emiten keuangan dapat mempertahankan kenaikan laba sebesar 21 persen (YoY), atau menurun 6 persen dibandingkan prediksi tahun ini sebesar 27 persen (YoY).

Meski pada 2018 akan ada penurunan persentase net profit dari 60-70 emiten Tjandra menegaskan, posisi price to earning (PE) ratio seluruh emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah yang tertinggi. Adapun prognosa 2017, emiten di bursa saham Tiongkok merupakan yang tertinggi. Kedua, EPS emiten di indeks MSCI AxJ, sementara emiten dari S&P 500 urutan ke-3, Hong Kong berada di urutan ke-4, dan EPS emiten di BEI berada di posisi ke-5.

Sementara pada 2018, ada potensi bahwa EPS emiten secara global akan menurun. Di tengah kondisi tersebut, total EPS dari emiten di Indonesia hanya berada di bawah indeks MSCI AxJ. “EPS kita juga akan menurun, seiring potensi kenaikan net profit yang sudah terjadi signifikan pada 2017. Namun di sisi lain, total EPS atas indeks atau negara lain justru menurun, tapi kami belum tahu latar belakang potensi penurunan price to earning (PE) ratio secara global tersebut,” tutur dia.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT