Skandal Pemalsuan Kobe Steel, Produknya Digunakan Shinkansen

Shinkansen, kereta api cepat Jepang Seri E-5 dan E-6 yang dioperasikan East Japan Railway Company. Kereta api dengan kecepatan 320 km per jam ini akan dioperaskan di Indonesia, Jakarta-Bandung jika Jepang memenangi tender. (Beritasatu.com/Primus Dorimulu)

Oleh: Faisal Maliki Baskoro / FMB | Kamis, 12 Oktober 2017 | 10:45 WIB

Tokyo - Kereta cepat (Shinkansen) Jepang ternyata menggunakan bahan aluminium Kobe Steel Ltd yang tidak memenuhi standar. Produsen besi itu memang tengah terlibat skandal pemalsuan spesifikasi besi dan aluminium. Pelaku pasar mengkhawatirkan skandal ini bisa menghancurkan perusahaan yang berusia seabad itu.

Menurut Central Japan Railway Co, operator Shinkansen Tokyo-Osaka, dua tipe aluminium yang digunakan untuk menghubungkan gerbong ternyata tidak memenuhi standard kualitas. Meski demikian, kereta masih aman digunakan. West Japan Railway Co, operator Shinkansen Osaka-Fukuoka, juga menemukan aluminium yang tidak memenuhi standar tersebut.

Juru bicara Central Japan Railway, Haruhiko Tomikubo, mengatakan hari ini bahwa ada 310 bagian yang tidak memenuhi standar dan akan segera diganti pada pemeriksaan berkala berikutnya.

Pada Minggu (8/10), Kobe Steel, produsen besi terbesar ketiga di Jepang, mengakui memalsukan data kualitas kekuatan produk aluminium dan tembaganya. Klien Kobe, mulai dari Toyota hingga General Motors, langsung berusaha mencari tahu apakah keamanan produk mereka terancam akibat kebohongan Kobe.

Executive Vice President Kobe, Naoto Umehara, mengatakan bahwa praktik pemalsuan telah berlangsung selama 10 tahun. Kobe juga mengakui memalsukan produk serbuk bijih besi dan material yang digunakan untuk DVD dan layar LCD.

CEO Kobe Hiroya Kawasaki mengunjungi Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang hari ini untuk meminta maaf kepada konsumennya dan berjanji akan memperbaiki pemeriksaan produknya.

Hingga saat ini belum ada laporan terkait keamanan produk yang menggunakan Kobe Steel. Kobe kehilangan kapitalisasi pasar US$ 1,6 miliar karena sahamnya anjlok 36 persen dalam dua hari terakhir.




Sumber: Bloomberg
ARTIKEL TERKAIT