PKB: Ekonomi Syariah Bisa Atasi Kemiskinan

Presiden Joko Widodo (tengah) menerima penghargaan "Global Islamic Finance Leadership Award 2016" yang diserahkan mantan Gubernur Bank Sentral Nigeria Muhammadu Sanusi (kiri) didampingi CEO Edbiz Corporation Humayon Dar (kanan) dalam acara Global Islamic Finance Award (GIFA) yang diadakan OJK dan EdBiz Consulting, di Jakarta, Kamis 30 September 2016. Penghargaan ini diberikan atas keberhasilan dan kontribusi dalam pengembangan keuangan syariah dalam skala global. (Antara)

Oleh: Yustinus Paat / YS | Sabtu, 4 November 2017 | 12:21 WIB

Jakarta - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menilai, ekonomi syariah yang inklusif bisa mengatasi kemiskinan dan ketidakadilan. Karena itu, PKB mendorong berbagai stakeholder baik Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, Menteri Perekonomian, dan pemerintah daerah untuk merealisasikan ekonomi syariah.

"Mari kita realisasikan peluang perekonomian syariah yang inklusif. Ini bisa menjadi cepat mengatasi kesenjangan ekonomi dan kemiskinan," ujar Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar di sela-sela diskusi bertajuk “Prospek Indonesia Sebagai Pusat Keuangan Syariah Global” di Graha Gus Dur, Kantor DPP PKB, Jalan Raden Saleh, Jakarta, Jumat (3/11).

Pria yang biasa disapa Cak Imin ini mengungkapkan, tiga persoalan perekonomian nasional yakni kesenjangan, keterbatasan anggaran, dan kemiskinan. Menurut dia, ekonomi syariah berpotensi besar mengatasi tiga masalah ini karena ekonomi syariah bisa berkembang cepat di Indonesia.

"Karena ditopang oleh daya dukung masyarakat muslim terbesar di dunia. Kedua dengan potensi itu memberi peluang bagi Indonesia menjadi pusat pengembangan perekonomian syariah dunia. Tapi saya potensi ini belum sepenuhnya digali," jelas dia.

Karena itu, Cak Imin berharap pemerintah, masyarakat dan pelaku perbankan syariah untuk melakukan konsolidasi. Terutama, kata dia, ikut meningkatkan perkembangan produk ekonomi syariah, baik itu produk gaya hidup maupun produk keuangan serta perekonomian pada umumnya.

"Misalnya produk wisata halal, makanan halal, pakaian halal, dan berbagai produk perekonomian yang menopang perekonomian nasional. Ini menjadi penting karena sampai saat ini pertumbuhan perbankan syariah hanya 5 persen, sangat kecil dibanding pertumbuhan perbankan pada umumnya," ungkap dia.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT