Animakini, Wujud Cinta Bekraf pada Animasi Indonesia

Narasumber dalam jumpa pers "Animakini" (kiri ke kanan): Dekan Fakultas Seni Rupa IKJ, Indah Tjahjawulan, Deputi Riset Edukasi dan Pengembangan Ekonomi Kreatif, Boy Berawi, Direktur Riset dan Pengembangan Ekonomi Kreatif Badan Ekonomi Kreatif, Wawan Rusiawan, dan Wakil Rektor I IKJ, Agni Ariatama. (B1.com/Dina Fitri Anisa)

Oleh: Dina Fitri Anisa / AB | Kamis, 9 November 2017 | 06:43 WIB

Jakarta - Animasi Cikini atau Animasi Terkini (Animakini) 2017 adalah acara yang diselenggarakan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Creative Labs (BCL) yang berlangsung pada 8-10 November di Goethe Haus, Jakarta Pusat. Acara ini digelar guna meningkatkan industri dan ekonomi kreatifdi bidang animasi.

Animasi, film, dan video adalah salah satu subsektor yang dijadikan prioritas ekonomi kreatif Indonesia di masa depan. Kontribusi yang diberikan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Subsektor ekonomi kreatif, termasuk animasi dan video berkontribusi Rp 852 triliun atau 7,38 persen terhadap PDB nasional 2015 dengan tingkat pertumbuhan per tahun mencapai 4,38 persen.

"Di antara 16 subsektor ekonomi kreatif, Bekraf melihat animasi adalah salah satu yang subsektor yang memiliki opportunity komersialisasi yang besar. Karena, dari produk animasi yang sukses, ia bisa mengeluarkan produk-produk kekayaan intelektual yang bisa dimanfaatkan produknya, seperti merchandise, game, komik, fashion, periklanan dan lain-lain,” kata Deputi Riset Edukasi dan Pengembangan Ekonomi Kreatif, Boy Berawi dalam acara "Animakini" di Jakarta, Rabu (8/11).

Menurutnya, untuk meningkatkan kontribusi subsektor animasi dibutuhkan sinergi dari berbagai pemangku kepentingan serta pelaku dalam ekosistem pelaku animasi Indonesia secara keseluruhan, sehingga bisa terjadi percepatan dan efektivitas kerja serta program-program dalam memperluas dan memeratakan pengembangan sektor-sektor produktif di bidang animasi.
Berdasarkan pertimbangan tersebut dibutuhkan forum atau temu pelaku dalam ekosistem animasi agar dapat melihat dan berkomunikasi langsung untuk membahas langkah-langkah yang dibutuhkan untuk membuat program kolaborasi yang efektif antara pendidikan, industri, komunitas, pemerintah, dan media.

Kerja Sama
Bekraf sudah bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk memberikan fasilitas terhadap para pelaku animasi, sehingga mereka bisa memanfaatkan fasilitas yang ada di lembaga tersebut. Salah satunya untuk rendering video.

"Melalu kerja sama ini, Bekraf akan memperkuat komitmen, konsistensi, dan kontinuitas, untuk terus melakukan kemitraan bersama lembaga akademis atau perguruan tinggi untuk mengembangkan ekonomi kreatif," kata Direktur Riset dan Pengembangan Ekonomi Kreatif Bekraf, Wawan Rusiawan.

Selain itu, Bekraf juga melakukan kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi untuk meningkatkan ekosistem industri kreatif Indonesia.

Untuk animasi, Bekraf mempercayakannya kepada Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang ditunjuk sebagai tim penyusun grand strategy dan roadmap subsektor animasi.

Menanggapi hal itu, Dekan Fakultas Seni Rupa IKJ, Indah Tjahjawulan menyatakan IKJ sebagai institusi pendidikan memiliki peranan untuk membangun industri budaya, termasuk industri kreatif. Dalam dunia pendidikan, terdapat sebuah ekosistem yang dapat mendorong perkembangan animasi saat ini.

"IKJ tidak fokus dalam satu medium. Inilah bentuk kerja sama yang harus kita lakukan. Kita bertemu antar-lima unsur ini (pendidikan, industri, komunitas, pemerintah, dan media). Pertemuan sebuah gagasan untuk memajukan subsektor ekonomi kreatif," katanya. 

 




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT